Penting!!! Kita Harus Mampu Menjaga Lisan

Ada sebuah ungkapan yang berbunyi “Luka karena tersayat pedang akan meninggalkan bekas luka dan nantinya itu akan sembuh, tetapi luka karena lidah (ucapan) akan diingat sampai mati karena meninggalkan luka di hati.”

Sebuah ungkapan yang benar adanya, yang menggambarkan bagaimana bahayanya ucapan seseorang. Ucapan yang salah akan membuat orang merasa sakit hati, nah begitulah dilematika kehidupan.

Seorang wirausahawan yang sejati tidak akan melukai para pekerjanya dengan ucapan sehingga tidak membuat para karyawan sakit hati.

Melukai dengan ucapan, apalagi di muka umum tidak akan memberikan pelajaran bagi karyawan yang bekerjasama dengan Anda karena sama halnya dengan merendahkan harga diri mereka di mata publik.

Seorang wirausahawan sejati tidak akan melakukan tembakan dari bibir sehingga tidak akan menjadikan para karyawannya merasa sakit hati karena tindakannya.

Seorang wirausahawan sejati akan mengajarkan dan mendidik para karyawan ketika mereka membuat kesalahan dalam melakukan pekerjaan sehingga mereka akan mendapatkan pembelajaran.

Akan tetapi, jika Anda menghina dan merendahkan mereka atas pekerjaan mereka justru itulah yang kelak menjadi masalah.

Seorang pemenang akan selalu memikirkan dan memperhitungkan setiap ucapan yang mereka lontarkan sehingga tidak ada kesalahpahaman yang terjadi, dan ia pun akan dihargai oleh orang lain.

Untuk itulah, perhatikan ucapan Anda sebelum berkata-kata kepada siapa saja karena ucapan yang salah akan menyebabkan konflik.

Bekerjalah secara profesional dan penuh dengan perhitungan sehingga tidak akan terjadi tindakan yang tidak Anda inginkan. Jangan sampai terjadi konflik di antara kalian karena ucapan.

Untuk lebih membuat Anda paham akan konsep lidah lebih tajam daripada pedang, sebaiknya Anda membaca sebuah kisah tentang “Paku dan Amarah” yang akan mengubah paradigma anda sehingga akan menjadikan diri anda untuk lebih baik.

Kisahnya sebagai berikut.

Paku & Amarah

Suatu ketika hiduplah sebuah keluarga baru yang bahagia. Dan hasil pernikahan suami-istri tersebut kemudian lahirlah seorang anak laki-laki. Setelah beranjak dewasa alangkah kagetnya kedua orang tua anak kecil, karena sang anak laki-lakinya bersifat temperamen yang mudah marah dan tersinggung.

Berbagai hal telah mereka lakukan untuk mengobatinya, sampai suatu ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk mendidik anaknya di rumah saja, tentunya dengan penuh kasih sayang.

Suatu ketika, sang ayah menasihati si anak untuk bisa mengurangi kebiasaan marahnya tersebut.

Untuk itu, sang ayah memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah, untuk melampiaskan kemarahan yang dialami anak tersebut. Anak tersebut menuruti kata-kata orang tuanya.

Hah pertama, anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar. Sampai suatu ketika si anak mulai menyadari bahwa melampiaskan kemarahannya dengan memaku tidaklah bermanfaat apa-apa. Dan mulai sejak kejadian paku memaku tersebut ia mulai menahan amarahnya dengan ketenangan.

Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari di mana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari di mana dia tidak marah.

Setelah kejadian tersebut, sang anak pun merasa bahwa ia telah berangsur-angsur membaik. ia memberitahukan kepada ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Alangkah senangnya hati sang ayah mendengar penuturan dari sang anak.

Dengan bijaksana, sang ayah pun mengajak anaknya ke belakang tentunya dengan menuntun anaknya ke Pagar. Sampai di pagar tempat si anak memaku, sang ayah pun berkata, lihatlah, Nak…kini kamu telah berhasil dengan baik, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini.

Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini… di hati orang lain.”

Mendengar penuturan perkataan ayahnya si anak pun menjadi sadar dan menyesal karena melakukan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu ia lakukan, ia berpikir sudah berapa orang yang tersakiti karena ucapan dan kemarahannya selama ini.

Kisah di atas mengisyaratkan kepada kita bahwasanya sebuah lisan amatlah penting untuk dijaga. Berawal dari perkataan biasanyalah yang memicu permusuhan, pertikaian, dan lain sebagainya. Untuk itu, mulai sekarang berhati-hatilah dalam berucap.

Ingatlah ungkapan “luka tersayat pedang akan sakit ketika darah sedang mengalir, sedangkan luka karena ucapan akan diingat sampai mati”

Seorang wirausahawan yang cerdas adalah orang yang mampu menahan amarahnya dan mampu berkata penuh dengan perhitungan. Hal ini disebabkan seorang wirausahawan akan selalu berhadapan dengan para karyawan dan customer.

Sekali Anda berucap dengan kata-kata yang salah akan melukai hati orang lain. Jika karyawan, akan membuatnya sakit hati dan mungkin akan keluar dari perusahaan. Jika seorang customer, ia tidak akan membeli barang atau jasa yang Anda jual.

Artikel Terkait

loading...