loading...

Inilah Dampak Mengerikan Jika Anak Sering Dimarahi

Marah atau emosi memang manusiawi tapi tidak berarti boleh diluapkan seenaknya terutama pada anak. Orangtua memarahi anaknya pasti tujuannya baik sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab selaku orangtua. Tapi jika memarahi dengan nada yang tinggi bahkan sampai membentak, itu lain ceritanya, sebaiknya segera kurangi kebiasaan itu yaa mulai sekarang. Sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari seorang ibu yang jengkel atas kenakalan atau kesalahan anak-anaknya melaknat atau menyumpahi mereka.

Baik dengan kata-kata yang kotor (tidak pantas) ataupun do’a yang tidak baik. Sehingga sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Sang ibu tidak pernah merasa bersalah ataupun berdosa atas perbuatannya tersebut. Sambil bersungut-sungut dan mengumpat ia pun berlalu, meninggalkan buah hatinya dalam keadaan menangis.

Tahukah anda para orangtua, bahwa ada dampak buruk yang terjadi pada anak jika sering dibentak. Terdapat banyak penelitian yang mengungkapkan ketika anak dibentak akan terjadi reaksi atau respon negatif didalam milyaran sel-sel otak mereka. Seperti yang dijelaskan Amir Zuhdi, Dokter ahli ilmu otak dari Neuroscience Indonesia, saat orangtua membentak, anak akan merasa ketakutan. Ketika muncul rasa takut itu, produksi hormon kortisol di otak juga akan meningkat.

Tingginya hormon kortisol bersama dengan bentakan yang berasal dari gelombang suara akan berkolaborasi dengan emosi yang berasal dari otak kiri dan menciptakan efek destruktif pada miliaran sel-sel otak anak. Itu cukup untuk memutuskan sambungan neuron atau sel-sel di otak. Selain itu, akan terjadi percepatan kematian neuron atau apoptosis. Lalu, apa akibatnya jika neuron terganggu ?

Anak-anak yang sering mendapat bentakan atau teguran keras dari orangtua mereka, biasanya akan mengalami beberapa gangguan, seperti yang akan dijelaskan dibawah ini :

Anak Menjadi Minder, Takut dan Tidak Percaya Diri
Akibat seringnya dibentak lantaran kesalahan yang dia lakukan, seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cenderung minder dan tidak percaya diri. Ketakutan-ketakutan pun timbul dalam dirinya ketika ia akan melakukan hal-hal baru, karena dari pengalaman sebelumnya jika ia melakukan kesalahan maka akan mendapat bentakan. Sehingga tertanam dalam pikiran si anak bahwa ia tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar dan takut mencoba.

Kemarahan sangat mengerikan bagi anak-anak. Ketika mereka yang selama ini berpikir bahwa keluarga adalah tempat terbaik dan paling aman justru menjadi tidak terkendali, ini akan membuat mereka ketakutan dan merasa cemas. Mereka menjadi sangat berhati-hati dan takut melakukan atau berkata apapun. Bahkan mereka bisa tumbuh sebagai pembohong karena kebenaran akan membuatnya dimarahi.

Meniru Perilaku Orangtua
Ada istilah mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya“. Anak terutama pada masa awal perkembangan adalah seorang peniru. Ingatlah masa depan anak tergantung didikan orangtuanya. Jika setiap hari anak dijejali dengan bentakan dan perlakuan kasar, dikemudian hari dia akan berlaku persis seperti yang ia pernah rasakan dulu, karena menganggap teriakan dan bentakan adalah bentuk kasih sayang.

Temperamental Dan Egois
Akibat didikan dari orang tuanya yang mengekspresikan sesuatu dengan teriakan dan bentakan, seorang anak akan berperilaku temperamental dan cenderung egois. Seperti dikatakan dalam poin diatas anak akan belajar dari apa yang dialaminya. Entah ia bisa balik membentak orang tua, temannya, atau orang lain yang ada di sekitarnya. Tentu saja kepribadian tempramental ini akan membentuk perilaku mudah marah. Anak menjadi cenderung agresif dan sensitif.

Membangkang dan Menentang
Terkadang anak akan diam saja ketika dimarahi atau dibentak karena tidak memiliki keberanian untuk melawan. Namun disaat mereka tumbuh dewasa apalagi dipengaruhi oleh lingkungan mereka bergaul, jangan kaget jika mereka memiliki perilaku membangkang dan melawan orangtua. Karena sejak kecil ia diperlakukan kasar diam saja sekarang ketika dewasa dia akan mempertahankan harga dirinya meski harus melawan orangtua.

Alih-alih mendengarkan dan menurut, anak yang terlalu sering dimarahi justru berpotensi menjadi anak yang suka membantah. Anak-anak mengamati bagaimana orangtua mereka mengatasi rasa frustasi dan mencerminkan perilaku mereka saat berada di bawah tekanan. Bahkan ketika Anda membentaknya, dia bisa tumbuh menjadi anak yang agresif dan menantang Anda.

Apatis dan Tidak Peduli Terhadap Orang Lain
Anak akan berpikir kenapa dia harus peduli terhadap orang lain sedangkan dulu orang tuanya juga tidak mempedulikan perasaannya. Begitu juga misalnya dilingkungan, teman, sekolah atau dimana saja ketika ia berada cenderung tidak peduli dan tidak peka terhadap sekitarnya.

Tingkat Kecerdasan Menurun
Ketika anak belajar terjadi hubungan antara sel otak satu dengan yang lain. Salah satu hal yang menyebabkan terputusnya sambungan sel-sel otak yaitu bentakan. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Lise Gliot pada anaknya sendiri dengan memasangkan kabel perekam otak yang dihubungkan ke monitor komputer menunjukkan ketika anak dimarahi atau di bentak terjadi reaksi destruktif pada neuron atau sel-sel saraf otak anak. Akibatnya anak mungkin akan mengalami gangguan kecerdasan seperti lambat saat menerima pelajaran , berfikir atau memutuskan sesuatu.

Anak mendapatkan gangguan mood
Kemarahan yang diterima anak berulang kali juga memungkinkan mereka mendapatkan gangguan mood. Anak bisa menderita depresi, rasa bersalah, sedih, terasing, harga diri rendah, hingga putus asa. Melihat orangtua yang sering marah-marah juga menyebabkan kurangnya empati pada anak. Ini membuatnya mudah mengalami gangguan mood.

Depresi
Anak yang sering dimarahi bisa mengalami tekanan mental atau depresi. Anak akan jadi lekas marah atau frustasi, egois, agresif, merasa sedih, merasa tidak berharga atau bersalah, dan lambat dalam berpikir, berbicara, atau bergerak.

Trauma
Kemarahan tidak mengajarkan apa-apa terhadap perkembangan si kecil, justru membuat renggang ikatan batin antara orang tua dan anak, anak akan merasa tidak nyaman dan takut karena perilaku orang tuanya. Anak yang sering kena marah bisa mengalami trauma.

Introvert
Anak akan memiliki pribadi yang tertutup. Kepribadian introvert merupakan kondisi psikologis dimana anak lebih pendiam dan cenderung menutup dan menarik diri dari lingkungannya. Anak enggan mengungkapkan isi hatinya atau permasalahan yang dihadapinya, takut mengutarakannya karena takut dipersalahkan.

Kadang memarahi anak tidak bisa dihindari, bahkan karena beban kerja yang dimiliki orang tua disulut karena berbagai macamnya perangai anak-anak kita. Namun, sebelum bunda memarahi anak sehingga menjadi kebiasaan yang terus menerus. Perlu diingat dampak buruk jika anak sering dimarahi seperti penjelasan kami tersebut.

Mendidik anak dengan cinta dan kelembutan adakalanya memang tidak semudah ketika mengucapkannya. Tindakan dan tingkah laku anak sendiri sering menjerumuskan untuk melakukan tidakan yang diluar batas dan kontrol orangtuanya. Namun kita kembali mengingat betapa dahsyatnya dampak buruk yang bisa diakibatkan oleh bentakan yang berkelanjutan dalam jangka panjang, sepatutnya sebagai orangtua yang jadi panutan baik untuk anak-anaknya dihimbau agar lebih bisa mengendalikan diri.
Jika Dewasa Anak Akan Mulai Memukul Orang Tuanya Karena "Anak Peniru Ulung"

Dibawah ini ada beberapa tips yang mungkin berguna untuk meredam amarah dan mencegah membentak ketika anak berbuat kesalahan :
  1. Ketika anak anda berteriak, usahakan jangan terpengaruh untuk berteriak atau membentaknya lebih keras. Dekati dia dan bicaralah secara lemah lembut
  2. Sebelum anda kehilangan kontrol untuk membentak anak, ingatkan diri anda, bahwa anak adalah peniru ulung. Ia akan meniru setiap setiap kata-kata kasar yang kita teriakan di benaknya.
  3. Ingatlah, kepribadian anak di masa depan adalah hasil bentukan kita di masa sekarang.
  4. Segeralah mengubah posisi tubuh anda, seperti dari berdiri menjadi duduk. Hal ini akan menurunkan ketegangan emosi anda.
  5. Ketika anda merasa emosi memuncak, sebaiknya palingkan muka anda sejenak dari anak atau pergi ke ruangan lain untuk menenangkan diri sesaat
  6. Pejamkan mata dan tarik nafas kemudian hembuskan secara perlahan. Hal ini akan membuat dada yang sesak terasa longgar dan lebih lapang
Orangtua sebagai orang yang lebih dewasa dituntut harus bisa mengelola emosi. Ketika anak berbuat salah, katakan salah dengan memberikan pengertian bukannya dengan membentak-bentak. Semoga Bermanfaat.

Artikel Terkait

loading...