loading...

Janganlah Kamu Terburu-buru Menilai Orang Lain

Agama Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna karena Islam mengajarkan seluruh aspek-aspek kehidupan manusia, dari hal yang paling penting sampai hal yang sering dianggap sepele oleh kebanyakan manusia. Tidaklah satu di antara kita menyebutkan satu perkara kecuali pasti telah dijelaskan oleh syariat Islam yang mulia ini.

Berusahalah untuk selalu memahami orang-orang yang berada di sekeliling kita yang mungkin menyimpan cerita kehidupan yang tidak bisa kita bayangkan, seperti kisah berikut ini:

Kisah Seorang Dokter Muda 
Seorang dokter sedang bergegas hendak masuk ke dalam ruang operasi. Ia terlihat buru-buru, wajahnya cemas, beberapa bulir keringat bercucuran menetes melalui wajahnya yang bersih. Itu pertanda bahwa ia memang bergegas datang ke rumah sakit. Sesampainya di pintu operasi, seorang lelaki yang merupakan ayah dari pasien yang akan dioperasi dokter itu melabraknya, “Kenapa lama sekali anda tiba di rumah sakit ini? Seharusnya anda tahu bahwa anak saya di dalam sana sedang berjuang mempertahankan nyawanya! Dan telat sedikit saja anda tiba di rumah sakit ini, nyawa anak saya taruhannya, dok!”

Sambil tersenyum kecil, dokter itu menjawab, “Maaf, saya sedang tidak di Rumah Sakit tadi. Tapi begitu pihak rumah sakit menghubungi saya untuk segera datang, saya langsung bergegas kemari” 

Tanpa memperpanjang percakapan, dokter muda itu segera masuk ke ruang operasi. Beberapa jam kemudian, dokter muda itu keluar dari ruangan operasi dengan wajah tersenyum. Ia mendekati ayah sang anak yang melabraknya tadi, “Alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan anak bapak sudah dalam kondisi stabil di dalam” kata dokter muda itu, “Oh iya, jika butuh apa-apa, silakan hubungi suster yang berjaga, Insya Allah mereka akan membantu semua kebutuhan bapak di rumah sakit ini” 

Tanpa merasa perlu menunggu jawaban dari sang ayah, sang dokter muda langsung bergegas pergi meninggalkan ayah si pasien. Si ayah pasien merasa tindakan dokter muda itu arogan, sombong, dan angkuh. Sambil bersungut-sungut kesal, ia menggerutu, “Kenapa dokter itu angkuh sekali? Bukankah seharusnya ia memberi penjelasan mengenai keadaan anak saya!” katanya di depanseorang suster. 

Sambil meneteskan air mata suster itu menjawab, “Anak dokter tersebut meninggal dalam kecelakaan kemarin sore, ia sedang menguburkan anaknya saat kami menghubunginya untuk melakukan operasi kepada anak anda. Sekarang anak anda sudah selamat, dan ia bisa kembali berkabung. Kembali ke pemakaman anaknya” Kawan, jangan pernah terburu-buru menilai seseorang. Maklumilah setiap jiwa di sekeliling kita yang menyimpan cerita kehidupan yang kadang tidak pernah kita bayangkan. 

Ingatlah bahwa selalu ada air mata di setiap senyuman, ada kasih sayang di balik setiap amarah, ada pengorbanan di balik setiap ketidakpedulian, ada harapan di balik setiap kesakitan, dan ada kekecewaan di balik setiap derai tawa. 

Pahamilah setiap kehidupan dan jangan buru-buru menilai seseorang. Suatu saat mungkin engkau melihat seseorang tidak berlaku baik seperti yang kaupikirkan dan harapkan. Lalu engkau menilainya buruk, tidak berperikemanusiaan, tidak memiliki simpati dan empati seperti yang kaubayangkan. Bahkan mungkin engkau merasa lebih baik darinya, karena saat itu engkau bisa berbuat baik ketika ia tidak.

Berhati-hatilah…. engkau mungkin sedang tertipu… Bahkan engkau mungkin sedang salah menilai seseorang. Jika engkau menilainya hanya dengan apa yang kaulihat sekarang,maka akuilah bahwa engkau pun sering tidak berbuat baik ketika orang-orang bisa melakukannya. Dan sebagian dari kondisi demikian membenarkanmu untuk tidak berbuat baik.

Misalnya karena engkau sedang tidak mampu melakukannya, atau rezekimu sedang ditahan Tuhan, atau tanganmu tidak sedang memegang peluang, atau engkau memang tidak tahu bahwa saat itu seharusnya engkau berbuat baik kepada orang lain, atau mungkin engkau sedang merencanakan sebuah kebaikan yang tidak diperkirakan orang…

Dan saat itu, ketika engkau tidak berbuat baik tersebut, engkau berusaha memaafkan dirimu, dan membenarkan pilihan tindakanmu… Padahal, mungkin orang-orang yang melihatmu menilaimu dengan buruk. Tentu hatimu tidak menerima penilaian mereka, karena sesungguhnya engkau tidak seburuk yang mereka kira. Namun sayangnya, itulah yang mereka melihat darimu…

Maka, jika engkau tidak mau dinilai hanya dari apa yang mereka lihat darimu sekarang, maka janganlah menilai seseorang hanya berdasarkan penglihatanmu sekarang… Cobalah ingat-ingat, mungkin beberapa waktu atau hari yang lalu ia telah banyak berbuat baik ketika engkau justru tidak. Dan ia memaafkanmu, memaklumimu…

Penglihatan itu terbatas. Dan tidak setiap kebenaran bisa terlihat oleh pandangan. Penglihatan memang dibutuhkan untuk menyaksikan kebenaran. Tetapi kebenaran tidak selalu muncul dalam penglihatan…. Maka bersabarlah menilai seseorang… Ketergesaanmu memutuskan penilaian, akan menghijab matamu dari kebenaran…

Dalam hal ini Imam al-Ghazali, memberikan 5 tips bagaimana sebaiknya kita menilai orang lain. Supaya tidak jatuh kepada penilaian yang salah. Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghazali berkata:

1. Jika engkau melihat orang yang masih muda, maka katakan dalam hatimu, ‘Orang ini belum banyak durhaka kepada Allah sedangkan aku sudah banyak durhaka pada Allah. Tidak diragukan lagi orang ini lebih baik dariku’.

2. Jika engkau melihat orang yang lebih tua, katakan dalam hatimu, ‘Orang ini sudah beribadah sebelum aku, dengan begitu tidak diragukan lagi bahwa dia lebih baik dariku’.

3. Jika engkau melihat orang alim (berilmu), katakan dalam hatimu, ‘Orang ini sudah diberi kelebihan yang tidak diberikan kepadaku. Dia menyampaikan suatu kebaikan kepada orang lain sedangkan aku tidak menyampaikan apa-apa. Dia tahu hukum-hukum yang tidak aku tahu. Maka bagaimana mungkin aku sama dengannya?’

4. Jika engkau bertemu dengan orang bodoh, kurang ilmu dan wawasan, katakan dalam hatimu, ‘Orang ini sudah durhaka kepada Allah karena ketidaktahuannya sedangkan aku durhaka kepada Allah dengan pengetahuanku, maka vonis Allah kepadaku lebih berat dibanding orang ini. Dan aku tidak tau bagaimana akhir hidupku dan akhir hidup orang ini’.

5. Jika engkau melihat orang kafir, maka katakan dalam hatimu, ‘Aku tidak tahu, bisa jadi dia akan masuk Islam dan mengisi akhir hidupnya dangan amal kebaikan, dan dengan keislamannya itu dosa dosanya keluar dari dirinya seperti keluarnya rambut darr timbunan tepung. Sedangkan aku, bisa jadi tersesat dari Allah (karena tidak mau meningkatkan iman) dan akhirnya menjadi kafir, dan hidupku berakhir dengan amal buruk. Orang seperti ini bisa jadi besok menjadi orang yang dekat dengan Allah dan aku menjadi orang yang jauh dari Allah’.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al-Quran, “Maka janganlah engkau menilai dirimu lebih suci (dibanding orang lain). Dia (Allah) lebih tahu siapa orang-orang yang bertakwa.” (QS. an-Najm: 32)

Artikel Terkait

loading...