loading...

Kisah Raja Muna Yang Dikenal Sebutan Haluole

Saya sebagai salah seorang keturunan Suku Muna dan sangat bangga terlahir sebagai orang Muna sebagaimana kita ketahui bersama Negeri Indonesia kita ini memiliki beraneka ragam suku, budaya, dan agama karena Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan sejarahnya Sebuah kutipan dari bapak orator kita, Bapak Ir.Soekarno. Untuk mengingatkan kembali tentang Suku Muna atau Wuna adalah suku yang mendiami Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Ciri orang Muna asli ini lebih dekat ke suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia ketimbang ke Melayu. 
Raja Lakilaponto (Muna), Haluoleo (Konawe), Murhum (Buton)
Muna pada asalnya dikenal dengan wuna (bunga) yang menberi makna spiritual kepada kejadian alamnya, dimana terdapatnya gugusan batu yang berbunga seakan-akan batu karang yang ditumbuhi rumput laut. Nama wuna kini ditukar dengan muna dan menjadi daerah dalam propinsi sulawesi tenggara, sebagaimana nama asli suku muna dan pulau muna. Namun, kata "wuna" itu lama kelamaan diucapkan dan ditulis menjadi "muna" dalam laporan dan bahasa resmi.

A. Prinsip Dasar Orang Muna
Pada dasarnya orang Muna memiliki feeli (prinsip hidup) berupa Dopandehao Wuto (mengenal diri), Dopomoo-Moologho (saling menyayangi), Dopo Pia-Piara (saling menjaga/memelihara), Dopo Angka-Angkau (saling menghargai), dan Dopo Adha-Adhati (saling meng‘adati). Disini saya akan mencoba menjabarkan sejarah dari kerajaan Muna sebagai tambahan ilmu kita semua sebagai orang Muna yang tidak boleh kita lupakan, berikut kutipannya :

Orang muna bisa dikatakan semuanya beragama Islam walaupun dalam budaya muna masih  terdapat peninggalan budaya Hindu yang masih ada dalam masyarakat muna. Yang sangat mencolok dari peninggalan Hindu misalnya dibaginya masyarakat muna menjadi 4 golongan sebagai dalam Agama Hindu, yaitu:
  1. Golongan Kaomu (mirip Kasta Ksatria dalam agama Hindu). Golongan adalah golongan yang berhak menjadi raja, panglima perang, kapita lau (kapten laut), dan lain-lain yang intinya sebagai penguasa. 
  2. Golongan Walaka (Mirip Kasta Brahmana). Golongan ini adalah golongan yang berhak menjadi Perdana Menteri (Bonto Balano), Pemangku Adat, Dewan Sara (semacam DPR di negara kita, Dewan Sara bertugas memilih, mengangkat dan memberhentikan raja), menteri-menteri dan ada juga yang menjadi bontono liwu (pejabat kampung) namun pejabat kampung ini kadang juga dipimpin oleh golongan Kaomu.
  3. Golongan Anangkolaki (Mirip kasta Waisya). Golongan ini adalah mereka yang ahli dalam perdagangan, pandai besi dan lain-lain.
  4. Golongan Maradika (Mirip kasta Sudra). Golongan ini adalah golongan rakyat jelata dan prajurit.
Pembagian golongan ini dimulai masa pemerintahan Raja Muna VI yang bernama La Manuru (Sugi Manuru). Dialah menggolongkan masyarakatnya ke dalam empat lapisan, walaupun tidak ada bukti sejarah bahwa pada masa pemerintahannya Agama Hindu diterima oleh negara. 

B. Sejarah Kerajaan Muna
Dikisahkan Latar Belakang Labolontio adalah seorang Bajak Laut yang menguasai kepulauan Moro di Filipina, perairan banda sampai selayar. Namun dalam manuskrip Buton, tercatat bahwa Labolontio adalah seorang kapten laut dari kepulauan Tobelo Kesultanan Ternate. La bolontio memimpin pasukan laut dibawah perintah Sultan Ternate untuk memperluas wilayah kekuasaannya juga dalam rangka menyebarkan pengaruh Islam di kawasan timur Nusantara termasuk Buton, Bima, Selayar dan Makassar yang pada saat itu kebanyakan Kerajaan masih beragamakan Hindu.

Labolontio kerap hampir menyerang semua dikerajaan-Kerajaan di semenanjung tenggara sulawesi antara lain Kerajaaan Konawe, Moronene, Muna dan Buton, termasuk daerah selayar. Disaat yang sama munculah seorang bernama Lakilaponto yang merupakan Putra Raja dari Raja Muna Sugi Manuru dari hasil perkawinanya dengan Wa Tubapala.

Dan selama hidupnya Lakilaponto berkeliling daerah jazirah Sulawesi Tenggara antara lain Kerajaan Konawe, Kerajaan Mekongga, Kerajaan Moronene, Kerajaan Wuna, Kerajaan Muna, dan Kerajaan Buton. Dan hampir setiap daerah yang disinggahinya Lakilaponto berhasil menyelesaikan masalah di daerah tersebut sehingga ia menjadi Raja atau Panglima Perang di masing-masing daerah tersebut, dan dikenal dengan nama yang berbeda di tiap-tiap daerah yakni Haluoleo (Konawe), Lakilaponto (Muna), Murhum (Buton) Awal Konfrontasi Konfrontasi antara Lakilaponto dan Labolontio telah terjadi sejak Lakilaponto menjadi Panglima Perang Kerajaan Konawe, dimana saat itu Labolontio menyerang daerah pesisir Kerajaan Konawe yakni Wonua Sampara. Namun akan tetapi Lakilaponto berhasil menghalau pasukan labolontio sehingga gagal menaklukan daerah tersebut.

Selain itu Labolontio juga pernah berhadapan lagi dengan Lakilaponto, ketika Labolontio menyerang wilayah Kerajaan Moronene, sehingga pada saat itu Kerajaan Moronene meminta bantuan Lakilaponto yang saat itu menjabat sebagai panglima perang di Kerajaan Konawe, sebagai balasan Lakilaponto mengirimkan peralatan dan perlengkapan perang untuk Kerajaan Moronene seperti berupa senjata dan baju perang, serta turut membantu Kerajaan Moronene menghalau Armada Labolontio.

Perang Melawan Labolontio di Kerajaan Buton Pada saat Labolontio sedang berada di Selayar, Armada Labolontio menyerang wilayah Kerajaan Buton dan mendarat di daerah Labuantobelo, sebelah utara pulau buton. Saat itu Kerajaan Buton yang dipimpin oleh Raja Buton La Mulae dengan gelar Sangia Yi Gola. Merasa kerajaannya terancam Raja Buton La Mulae mengadakan sayembara untuk mengalahkan Labolontio, dengan hadiah perkawinan dengan puterinya. Sayembara itu terdengar sampai ke Kerajaan Muna, sehingga pada waktu itu Raja Muna Sugi Manuru memanggil pulang Lakilaponto guna mengikuti sayembara tersebut, sebab apabila Labolontio berhasil menguasai Buton, maka Labolontio dapat mengancam kedaulatan Kerajaan Muna.

Dan Labolontio pun mengikuti sayembara tersebut, dan membawa sepupu dan sahabatnya Opu Manjawari dan Batumbu. Labolontio dan Lakilaponto akhirnya bertemu di pesisir Pantai Boneatiro dan terjadilah pertarungan yang sengit di antara keduanya, dan kemudian pertarungan dimenangkan oleh Lakilaponto. Lakilaponto berhasil memenggal kepala Labolontio dan menyerahkannya terhadap kepada sang Raja Buton saat itu. Dan Sebagai imbalannya Lakilaponto berhak mempersunting dan menikahi putri sang Raja Buton saat itu.

Setelah mengalahkan Labolontio, Lakilaponto kembali ke daratan Muna untuk menggantikan ayahandanya Raja Muna Sugi Manuru, yang telah lanjut usia. Dan baru tiga tahun memerintah Kerajaan Muna, Lakilaponto dinobatkan sebagai Raja Buton dan menggantikan mertuanya Raja Buton La Mulae, setelah itu Lakilaponto pun memeluk agama Islam, dan mengubah Kerajaan Buton menjadi Kesultanan, dan ia menjadi Sultan Buton pertama Yakni Sultan Muhammmad Isa Kaimuddin Khalifatul Khamis (Sultan Murhum)
Peta Kerajaan Muna

Setelah Lakilaponto dilantik menjadi sultan Buton, pembangunan kota wuna dilanjutkan penggantinya, La Posasu, adik Lakilampo. Sejalan dengan semakin baiknya sistem pemerintahan, pada masa kekuasaan Lakilaponto sebagai raja muna VII (1538- 1541) mulailah dibangun pusat kerajaan di lokasi yang disebut wuna tadi. Pembuatan benteng yang mengelilingi kota wuna merupakan prestasi besar yang dihasilkan pemerintahan raja tersebut. Ihwal pembangunan kota muna, Couvreur mengutip kepercayaan mistik bahwa dalam pembangunan benteng kota itu oleh Lakilaponto dibantu para jin roh halus. Pembuatan benteng itu memang merupakan pekerjaan raksasa sebab, seperti ditulis Couvreur, panjang keliling pagar tembok itu mencapai 8.073 meter dengan tinggi empat meter dan tebal tiga meter. Selain melanjutkan dan menyempurnakan pembangunan tembok pagar ibu kota kerajaan tersebut, La Posasu sebagai pengganti Lakilaponto juga mendirikan bangunan tempat perguruan islam, sesuai anjuran Syekh Abdul Wahid. Seperti disebutkan La Kimi Batoa, pensiunan guru sejarah, Abdul Wahid adalah penyebar agama islam pertama di pulau muna.

Setelah menjadi pemimpin Buton dan kemudian bergelar Sultan Murhum, menyusul diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan, Lakilaponto mengadakan kesepakatan dengan adiknya, La Posasu, untuk saling membantu dan bekerja sama bila kedua kerajaan menghadapi situasi pelik, termasuk ancaman dan intervensi dari luar.

Hubungan persaudaraan di antara kedua kerajaan terjalin hangat selama kurang lebih 3,5 abad. Namun, dalam kerangka politik pecah belah pemerintah kolonial Belanda bersama sultan Buton secara sepihak membuat perjanjian yang disebut Korte Verklaring pada tanggal 2 agustus 1918. Isi perjanjian itu menyebutkan, belanda hanya mengakui dua pemerintahan Swapraja di Sulawesi Tenggara, yakni Swapraja Buton dan Swapraja Laiwoi di Kendari. Sejak saat itu kerajaan Muna yang berdaulat dinyatakan berada di bawah kontrol kesultanan Buton. Sebagai subordinasi kesultanan Buton, Muna praktis menjadi salah satu dari empat wilayah penyangga (bharata) kerajaan islam tersebut.

Tiga bharata yang lain adalah Tiworo, Kulisusu, dan Kaledupa. Berdasarkan korte verklaring itu pula beberapa kerajaan kecil di sekitar kesultanan Buton, seperti Tiworo, Kulisusu, Kaledupa, Rumbia, dan Kabaena, ikut menjadi wilayah kekuasaan kesultanan Buton. Dua kerajaan kecil yang terakhir merupakan wilayah nonstruktural karena tidak menyandang predikat bharata. Demikian informasi yang dapat saya berikan buat rekan-rekanku sesama Suku Muna agar kita selalu mengingat sejarah kampung kita. Jika ada tambahan dari rekan-rekan sekalian silahkan tambahkan di kolom komentar untuk membagikan pengetahuannya terkait kebanggaan kita sebagai orang Muna memiliki feeli (prinsip hidup) bersama.

Artikel Terkait

loading...