Kisah Seorang Perampok Jalanan Menjadi Ulama

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu membuka pintu hidayah pada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Sungguh beruntung orang-orang yang memperoleh hidayah itu dan segera menyadari datangnya hidayah. Termasuk yang dialami oleh Fudhail. Ia memperoleh hidayah dari hal yang tak pernah terpikirkan dalam benaknya, yakni mendengarkan ayat Allah.

Dahulu, Fudhail bin Iyadh biasa merampok di jalan seorang diri. Suatu malam ia berniat untuk merampok. Benar, ia bertemu dengan satu kafilah yang pulang kemalaman. Di antara sesama pedagang dalam kafilah itu berkata, “Sebaiknya kita menginap di desa ini saja, karena di depan sana ada seorang perampok, orang biasa dipanggil Al-Fudhail.”


Seketika itu Fudhail mendengar pembicaraan mereka, maka gemetarlah ia. Lalu Fudhail berkata, “Wahai rombongan pedagang, aku inilah yang bernama Fudhail, silahkan Anda semua meneruskan perjalanan. Demi Allah, sejak saat ini aku berniat tidak akan lagi berbuat maksiat kepada Allah.” Lalu Fudhail kembali ke rumah urung melaksanakan niat jahatnya.

Menurut riwayat lain, pada malam itu serombongan tamu bermalam di rumah Fudhail. Sementara Fudhail berkata, “Sekarang kalian aman dari gangguan Fudhail.” Bahkan malam itu Fudhail berkali kali menemui mereka menghidangkan makanan. Tiba-tiba Fudhail mendengar seseorang membaca ayat,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid: 16)

Fudhail menjawab, “Benar, telah tiba waktunya.” Semenjak itulah dia bertaubat.

Selain belajar, ia mengisi hijrah dan taubatnya dengan totalitas berserah kepada Tuhan. menyerahkan diri kepada Allah. Tidak ada yang ia harapkan setelah taubat dan hijrahnya selain ridha Allah. Tentang totalitas dalam menyembah Allah diceritakan oleh Ibrahim bin Al-Ash'ats:

مَا رَأَيْتُ أَحَداً كَانَ اللهُ فِي صَدْرِهِ أَعْظَمَ مِنَ الفُضَيْلِ، كَانَ إِذَا ذَكَرَ اللهَ، أَوْ ذُكِرَ عِنْدَهُ أَوْ سَمِعَ القُرْآنَ، ظَهَرَ بِهِ مِنَ الخَوْفِ وَالحُزْنِ، وَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَبَكَى، حَتَّى يَرْحَمَهُ مَنْ يَحضُرُهُ، وَكَانَ دَائِمَ الحُزْنِ، شَدِيْدَ الفِكرَةِ، مَا رَأَيْتُ رَجُلاً يُرِيْدُ اللهَ بِعِلْمِهِ وَعَمَلِهِ، وَأَخْذِهِ وَعَطَائِهِ، وَمَنْعِهِ وَبَذْلِهِ، وَبُغْضِهِ وَحُبِّهِ، وَخِصَالِهِ كُلِّهَا غَيْرَهُ

“Aku tidak mengetahui orang yang lebih mengagungkan Allah dalam hatinya selain Al-Fudhail. Jika ia menyebut nama Allah, atau mendengar dari orang lain atau mendengar Al-Qur’an, terlihat dirinya sangat takut dan sedih, air matanya menetes dan menangis, sampai-sampai manusia di sekitarnya kasihan melihatnya. Ia selalu sedih (karena Allah), dan tajam pemikirannya. Aku tidak melihat seseorang selain dia yang lebih mengharap Allah dengan ilmu dan amalnya, dengan apa yang dia ambil dan pemberiannya, denga benci dan cintanya, dan segala perangainya.” (Siyar A’lam an-Nubala,  8/426)

Jika Fudhail saja bisa mendapatkan hidayah, tentu kita pun bisa. Melakukan perbuatan maksiat atau amoral memang akan menyebabkan noda hitam di hati yang akan menutupi hidayah dari Allah. Namun, terkadang, masih ada celah yang bisa membuat kita menerima kedatangan hidayah dari Allah. Dan tugas kita adalah menjaga jarak dan terus berusaha membersihkan semua noda di hati dengan mengingat Allah SWT. Insya Allah, Allah akan membersihkan hati kita dari semua noda dosa.

Demikianlah orang-orang yang terbenam dalam taubat dan hijrahnya untuk memperbaiki diri. Sebelumnya di kumpulan dosa, menjadi perampok yang ditakuti, kemudian berhijrah untuk menjadi seorang ulama dan ahli ibadah. Kisah beliau ini seharusnya menjadi inspirasi kita yang berhijrah untuk meraih ridha-Nya, agar sukses dalam hijrah dan tidak salah jalan. Wallahu a’lam bish showab.

Artikel Terkait