Kisah Menyedihkan!! Penangkapan Pengguna Narkoba

Saya segera melihat dia setelah pintu terbuka. Seorang anak, dengan rambut panjang hitam yang diikat dengan pita putih di atas leher kemejanya. Dia melihat kepadaku, dan matanya tampak seperti kolam yang penuh sinar saat dia tersenyum. Saya datang ke sana untuk menangkap orang tuanya.

Mata dan pikiran yang muda sedikit pudar, namun akibatnya menetap. Saya hanya dapat membayangkan apa yang akan dialami oleh gadis kecil ini. Dan saya tidak mempunyai pilihan lain kecuali membawa seluruh anggota keluarga itu kembali ke kantor pusat, karena tidak ada seorang pun di rumah yang dapat menjaganya. Dia baru berusia empat tahun.

Pemandangan pada saat itu sangatlah tidak pantas. Para petugas CNB yang keras, yang hanya mempunyai sedikit rasa kasihan terhadap pecandu dan pengedar, berubah menjadi ‘paman’ yang ramah dan membuat muka-muka lucu untuk menghibur anak itu. Dia menjadi pusat perhatian. penampilannya yang lugu sangat bertolak belakang dengan kondisi ruang interview yang dingin. Para petugas membelikan dia permen dan es krim, sebagai usaha untuk mengalihkan perhatiannya sementara kedua orang tuanya menjalani tes urin di ruangan sebelah. 

Hasilnya tidak menyenangkan. Kedua orang tuanya dinyatakan positif dan mereka dikirim ke pusat perawatan. Dia belum mengetahuinya, tetapi kehidupannya tidak akan pernah sama seperti sebelumnya. Bagaimana kamu memberitahukan anak perempuan kecil berumur empat tahun dan penangis bahwa kedua orang tuanya tidak akan pulang malam ini dan besok dan besok? Dan tidak untuk dua tahun mendatang?

Kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidaklah mempedulikan anak kecil ini sangatlah menyusahkan hatiku. Pada saat mereka dalam keadaan ‘fly’ akibat dari pemakaian heroin, mereka jelas tidak akan memikirkan keberadaan anak itu. Tetapi kemudian, pada saat mereka digiring ke pusat rehabilitasi, mereka juga tidak menyadari keberadaan anak ini, melihat ke arahnya pun tidak.

Saya juga pernah melihat orang tua yang bahkan menggunakan anak-anak mereka untuk menyembunyikandan mengedarkan Narkoba agar tidak tertangkap.

Dalam satu kasus, seorang ayah menggunakan anak laki-lakinya yang masih muda sebagai ‘pelaksana’untuk mengantarkan Narkoba kepadanya. Sang ayah menyuruh anaknya untuk mengantarkan bungkusan rokokyang berisi lintingan heroin kepada ‘pamannya’. Siapa yang akan mencurigai anak berumur 10 tahun?

Petugas penangkapan baru mengetahui masalah itu setelah penangkapan terhadap beberapa pelanggan sang ayah. Setelah mengetahui cara kerja sang ayah, polisi mendobrak pintu dan menangkap sang ayah setelah melalui perjuangan yang kasar. Selama kejadian itu, sang anak menyaksikannya dengan mata yang terbuka lebar dan penuh rasa takut. Sekali lagi, ayah maupun anak harus dibawa ke kantor polisi.

Masalah menjadi lebih buruk. Bukan hanya sang ayah tidak merasa bersalah, dia malah berusaha untuk memindahkan kesalahan kepada anaknya! Dia mengaku tidak mengetahui apa yang anaknya lakukan selama ini. Secara kasar sang ayah menuduh anaknya berusaha menjerumuskan dia. Sang anak hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan mata yang penuh dengan air. Tetapi kenyataannya adalah para pelanggan ayahnya telah menunjuk dia sebagai pengedar mereka.

Saya belumlah menjadi seorang ayah, tapi saya sudah melihat banyak masa kanak-kanak yang tidak bersalah berada dalam penganiayaan di dalam keluarga yang berlatar belakang Narkoba. Pemikiran / konsep perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya menjadi tidak berguna saat kita berhadapan dengan para pengedar dan pecandu Narkoba yang memiliki anak. Mereka tidak menyadari bahwa kewajiban mereka bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya.

Para pecandu sering tidak berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa mereka menggunakan Narkoba dari anak-anak mereka. tidaklah aneh jika menemukan bungkusan ataupun suntikan heroin bekas pakai di laci maupun lemari pada saat anak-anak mereka berada di sana.

Kisah menyedihkan lainnya yang pernah saya alami adalah pada saat melakukan penggerebekan di sebuah rumah susun di Bedok. Kami menggeledah rumah pengedar narkotik dan menangkap dia setelah menemukan heroin yang disembunyikan di berbagai tempat. Kami mengetahui bahwa para pecandu secara teratur akan datang ke sana untuk membeli narkotik, sehingga kami menunggu di sana untuk menangkap basah si pecandu yang datang karena tidak dapat menghindar untuk membeli narkotik.

Kemudian datanglah seorang wanita dengan bayi dalam gendongannya tiba di pintu itu. Dia terkejut ketika saya membukakan pintu. Merasa ada yang tidak beres, dia mengembalikan ketenangannya dan berbalik seperti hendak pergi. Saya segera menangkap dia dengan tuduhan penggunaan Narkoba. Dia memprotes keras bahwa dia tidak bersalah dan meminta penjelasan mengapa CNB menangkap seorang ibu yang tidak berbahaya dan bayinya. Dia mengaku hendak mengunjungi temannya. Ketika saya bertanya berapa nomor telepon temannya, dia tidak dapat memberikan saya sebuah nomor pun. Dia lupa, katanya.

Saya melihat dia membawa uang yang dikepal erat dalam tangan kirinya dan bertanya apa yang akan dia lakukan dengan uang itu. Itu adalah uang kertas $ 10 - jumlah yang tepat untuk membeli selinting heroin. Dia mengaku hendak mengembalikan uang yang dia pinjam dari temannya. Dari kartu identitasnya diketahui bahwa dia tinggal di daerah Jurong.

Cerita dia tidaklah mengada-ada.
“maksudmu kamu datang dari Jurong ke Bedok hanya untuk mengembalikan uang $ 10 kepada temanmu? Dan kamu tidak mempunyai nomor telepon rumahnya untuk mengecek apakah dia ada di rumah atau tidak?

Merasa kebohongannya terbongkar, dia berubah menjadi diam seribu bahasa. Kami menempatkan dia dan bayinya di sofa menunggu pecandu lainnya datang. Selama dalam penantian, para petugas berdiam diri untuk menyembunyikan keberadaan mereka.

Itu dapat berarti menangkap basah tersangka atau kehilangan mereka. tes urin yang positif dapat berarti enam bulan hingga tujuh tahun di balik jeruji. Bahkan akan lebih lama lagi bagi para pemakai yang pernah berada dalam pusat rehabilitasi.

Oleh karena itu kami berusaha untuk benar-benar tidak bersuara. komunikasi dilakukan dengan berbisik dan gerakan tangan. Tiba-tiba bayi itu menangis dengan sangat keras. Kami tertegun karena merasa tidak mungkin penyebab tangisan bayi itu adalah tekanan dari keberadaan kami mendadak di sana ataupun penangkapan secara keras yang dilakukan terhadap ibunya. Siapa yang tahu mengapa bayi itu menangis? Mungkin karena dia merasa tidak enak perut? Atau karena dia merasa capai? Apa pun alasannya, kami khawatir tangisan bayi yang demikian keras itu akan menimbulkan kecurigaan para pecandu yang akan mengunjungi rumah itu.

Apa yang saya lihat kemudian benar-benar mengejutkan saya. Saya memperhatikan si ibu dengan seksama dan melihat bahwa dia sengaja mencubiti bayinya agar menangis. Kami segera mengambil bayi itu dan menjauhkannya dari dia dan memborgol tangannya di depan. Dia memprotes perlakuan ‘kasar’ saya, dan berkata, “bagaimana kamu memperlakukan seorang ibu seperti ini?”

Ketika saya katakan apa yang saya lihat, dia terdiam. Sangat sukar untuk dipercaya perbuatan licik yang dilakukan perempuan itu. Tetapi kemudian hal ini tidaklah mengejutkan. Dia menggunakan bayinya untuk menghindari kecurigaan orang. Dan rencananya mungkin pernah berhasil. Sebelum kejadian ini, petugas penangkapan belum mencurigai ibu dengan bayi dalam gendongan.

Bagaimana mungkin seorang ibu dapat melakukan hal itu? Pemikiran yang mengganggu ini menimbulkan pertanyaan lain yang lebih membuat stres: apakah sang ibu mengkonsumsi heroin selama mengandung? Jika ya, dia dapat membahayakan jiwa bayi itu. Anaknya dapat lahir sebagai bayi yang ‘cacat’; kecanduan heroin pada saat kelahiran dan kerusakan permanen pada otak.

Ini adalah pikiran-pikiran saya selama kami menanti dalam hening sambil menunggu kedatangan pecandu lainnya.

Kami menangkap 8 tersangka dalam waktu tiga jam sebelum akhirnya kembali ke kantor polisi. Kami mengijinkan si ibu menggendong bayinya setelah dia mengaku sebagai pemakai heroin. Dia menginginkan menggendong bayinya untuk yang terakhir kali sebelum dikirim ke tempat penahanan. Di kantor polisi, dia meminta saya untuk menggendong bayinya pada saat menjalani tes urin. Pada saat itu saya berada di ruangan tempat tes urin yang biasanya berisikan berbagai macam pecandu heroin, yang biasanya adalah juga mereka yang mempunyai catatan kriminal atas perampokan dan berbagai pelanggaran lainnya, melihat dengan pasrah dan menggendong bayinya itu dalam tangan saya. Itu adalah saat yang akan selalu terpatri dalam ingatan saya.

Ironi yang sangat mengejutkan. Sang ibu meminta saya menggendong bayinya. Dia mempercayakan bayinya kepada saya selama dia menjalani tes urin. Hal ini benar-benar memukul saya. Jika hasil tesnya positif, maka saya adalah orang yang bertanggung jawab atas pengiriman ibu bayi ini ke tempat penahanan.

Sangatlah menyedihkan, ibu itu benar-benar dinyatakan positif dan dikirim ke tempat penahanan. Malam itu, suaminya datang ke kantor polisi dan dengan menangis dia berjanji pada istrinya bahwa dia akan merawat bayi mereka dengan sebaik-baiknya.

Perasaan sedih yang mendalam menghantui diriku. Itu adalah suatu kesia-siaan yang tragis melihat bagaimana orang merusak dirinya sendiri dengan narkotik, bagaimana mereka menyia-nyiakan hidup ini dan pada saat mereka tertangkap, itu adalah nilai terakhir yang harus mereka bayar atas hal-hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan.

Artikel Terkait