Apakah Agama Islam Tidak Bertentangan Dengan Sains?

Agama dan sains sama-sama merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Keduanya dibutuhkan manusia dalam menjalani hidup di dunia. Oleh karena itu, tidak perlu mempertentangkan keduanya, namun juga tidak harus menyatukannya, karena yang satu melengkapi yang lainnya. Sebenarnya baik sains maupun agama memiliki dua sisi, intelektual dan sosial. Agama bisa didekati dengan rasional dan empiris. Sementara sains pun bisa berwajah sosial, tidak melulu urusan rasional dan empiris.


Sakir dalam Kurniasih (2010) menyatakan baik agama maupun sains merupakan dua bidang yang sama-sama memiliki ruang dan wilayah kerja sendiri-sendiri. Meskipun tidak perlu diselaraskan, keduanya harus saling menghormati otoritas masing-masing. Modernisasi, dicapai melalui peningkatan teknologi karena adanya ilmu pengetahuan. Hasilnya, hidup semakin nyaman karena teknologi dikembangkan untuk membuat hidup semakin mudah. Namun kemudahan tersebut tidak jarang menjadikan manusia lupa akan kodratnya sebagai makhluk. Hal ini seringkali membawa dampak dikesampingkannnya agama. Apabila masyarakat hanya mementingkan ilmu, dan meninggalkan agama maka agama akan tidak lagi memiliki peran strategis dalam kehidupan. Akibatnya akan terjadi krisis spriritual, yang mengakibatkan hidup menjadi kering. Akibat selanjutnya, manusia kehilangan fungsi sebagai makhluk social dan makhluk ciptaanNya.

Dhani dalam Kurniasih (2010) menyatakan bahwa bagaimana pun ada perbedaan cara berpikir sains dengan agama. Agama berjalan dengan keyakinan, sebuah faith, sedangkan sains justru dimulai dari skeptisisme, keragu-raguan terhadap sesuatu. Skeptisisme ini yang membuat sains terus maju. 

Belajar sains adalah juga belajar rendah hati, mau mengakui kekurangan dan keterbatasan manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. Sains yang secular juga dapat mempertebal keimanan, namun iman juga dapat goyah oleh sains yang dicampuradukkan dengan agama

Hubungan Agama dan Sains dalam Perspektif Islam
Di dalam konsepsi Islam, menurut Dinar dalam Kurniasih (2010), agama adalah sains (ilmu) begitu juga sebaliknya, sains adalah agama. Hal ini disebabkan karena hukum menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Melihat fakta tersebut agama dan sains adalah sejajar. Menuntut ilmu bisa dikategorikan fardhu kifayah ataupun fardhu ain.

Hubungan sains dan agama akan lebih menyerupai pandangan imam Al-Ghazali, bahwa mendalami ilmu agama bagi semua orang adalah kewajiban pribadi atau fardhu ain, sedangkan mendalami ilmu umum (sains) adalah fardhu kifayah. Seseorang yang mendalami sumber-sumber ajaran agama Islam akan memperoleh inspirasi yang bersifat deduktif untuk mengembangkan bidang ilmu yang ditekuni. Sebaliknya, penguasaan ilmu yang ditekuni dapat memberi sumbangan pada upaya pemaknaan Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hadits (Suprayogo dalam Kurniasih, 2010). Dengan kata lain sains dan agama berdiri sendiri dan keduanya saling mendukung serta saling membantu dalam kemaslahatan umat manusia.

Selanjutnya disebutkan pula, sains identik dengan pemenuhan kebutuhan duniawi, seperti teknologi, intelektual, kesehatan, dan kemakmuran. Sementara agama lebih focus terhadap pemenuhan kebutuhan rohani dan tata cara pergaulan hidup. Dengan demikian agama memerlukan sains, dan begitu pula sebaliknya. Jika agama mempersenjatai diri dengan sains maka kepentingan keduniaan seperti pengentasan kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan bisa dicarikan penyelesaiannya. Sebaliknya sains harus memberikan kesempatan pada agama untuk mengisi dan menyempurnakan kekosongan jiwa manusia dengan esensi nilai-nilai spiritual.

Golshani dalam Kurniasih (2010) menyatakan bahwa salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lain adalah penekanannya terhadap ilmu (sains). Al Quran dan Al Sunnah mengajak kaum Muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.

Selanjutnya dijelaskan bahwa Al Qur’an menghargai orang-orang yang berilmu, yang dapat menunjukkan keagungan dan kehebatan ciptaan Allah dan yang memiliki kerendahan hati bahwa apa yang dihasilkan oleh ilmu mereka menunjukkan kekuatan Ilahi dan kebesaran-Nya. Hal-hal tersebut ditekankan oleh ayat-ayat dalam Al-Qur’an seperti :
Dan perumpamaan- perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (QS 29-43).

Sebenarnya Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim (QS 29:49)

Sebagaimana disebutkan oleh ayat-ayat di atas, memahami tanda-tanda Pencipta, hanya mungkin bagi orang terdidik dan bijak yang berjuang menggali rahasia-rahasia alam dan yang telah mendapatkan ilmu di bidang-bidang studi masing-masing. Oleh karena itu, penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan seharusnya bisa menjadikan manusia lebih sadar akan hakikat kebenaran agama dan segala aturannya.

Sains dalam Islam pada akhirnya adalah semacam penafsiran alegoris atas alam empiris yang membentuk alam tabi’i (Al-Attas, 1995). Oleh karena itu sains harus menyandarkan diri pada penafsiran makna-makna yang jelas atau tampak dari benda-benda di alam.

Bucaille dalam Kurniasih (2010) menjelaskan bahwa dalam Qur’an ditemukan keterangan-keterangan tentang fenomena-fenomena alamiah, yang hanya dapat difahami melalui pengetahuan ilmiah modern. Asal usul manusia merupakan salah satu hasil pengkajian mendalam, yang menghasilkan kesimpulan bahwa sains dan agama selaras. Pengkajiannya terhadap Al Qur’an menunjukkan bahwa Al Qur’an sepenuhnya bebas dari pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan penemuan-penemuan sains modern.

Menurut Bucaille dalam Kurniasih (2010), Quran memang bukan buku yang menerangkan hukum-hukum alam. Quran mengandung tujuan keagamaan yag pokok. Ajakan untuk memikirkan tentang penciptaan alam ditujukan kepada manusia dalam rangka penerangan tentang kekuasaan Tuhan. Ajakan tersebut disertai dengan menunjukkan fakta-fakta yang dapat dilihat manusia dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Tuhan untuk mengatur alam, baik dalam bidang sains maupun dalam bidang masyarakat kemanusiaan. Sebagaimana disebutkan dalam Surat An-Nahl (16) ayat 12 :
“ dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaaan Allah) bagi kamu yang memahaminya.”

Manusia dapat membandingkan berita dalam Quran yang dikuatkan oleh sains modern dengan contoh-contoh dari para ahli zaman kuno yang tanpa ragu-ragu memprediksi fakta-fakta yang telah diakui kebenarannya oleh sains. Namun demikian para ahli tersebut tidak dapat sampai kepada fakta-fakta itu dengan cara deduksi ilmiah, mereka mencapainya dengan memakai cara berpikir filsafat (Bucaille dalam Kurniasih, 2010). Pemikiran para ahli (di antaranya Copernicus) mengenai matahari dan tata surya juga telah diberitakan dalam Quran. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Nuh (71) ayat 15-16 :
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh ruang angkasa bertingkat-tingkat?”
“Dan diciptakan-Nya dalam ruang angkasa itu bulan bercahaya (karena dapat cahaya dari matahari) dan matahari bersinar (memancarkan cahaya).”

Di samping ayat-ayat yang khusus menggambarkan penciptaan langit dan bumi, ada lebih dari 40 ayat Quran yang memberikan keterangan-keterangan tambahan mengenai astronomi. Kata “Orbit” pun adalah terjemahan kata bahasa Arab : “falak”.

Hasil pengetahuan modern meramalkan bahwa dalam beberapa miliar tahun, kondisi system matahari tidak lagi seperti sekarang. Syrat Yaasin (36) ayat 38 menyebutkan matahari mengarah ke tempat yang khusus. Tempat khusus itu telah dibenarkan oleh astronomi modern dan dinamankan Solar Apex; sesungguhnya system matahari berkembang dalam angkasa menuju ke suatu titik dalma Konstelasi Hercules (alpha lyrae), di dekat bintang Vega yang hubunganya sudah diketahui benar, dengan gerak system matahari mempunyai kecepatan 19 kilometer per detik (Bucaille dalam Kurniasih, 2010). Perincian-perincian astronomi dalam Quran tersebut dapat dikatakan sesuai dengan hasil-hasil sains modern.

Pada dasarnya agama tidak pernah bertentangan dengan sains. Allahlah yang menciptakan keduanya. Maka ketidak sesuaian ataupun pertentangan di antara keduanya merupakan hal yang mustahil. Di dalam A-Qur’an yang diturunkan 1400 tahun yang lalu, ada penjelasan-penjelasan ilmiah tertentu yang kini telah dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan peralatan teknologi abad 20. Pernyataan bahwa agama bertentangan dengan sains merupakan kebohongan yang dibuat-buat oleh mereka yang mengingkari Allah. Tujuan mereka adalah menciptakan keraguan terhadap agama.

Artikel Terkait