Apakah Al-Qur’an Dapat Dimengerti Oleh Semua Orang Di Dunia?

Rasulullah berpesan meninggalkan dua pusaka, yaitu al-Qur’an dan Hadist, bukan berpesan meninggalkan tumpukan kitab kuning. Semua orang bisa berijtihad. Taqlid itu dilarang (Mengikuti begitu saja apa kata kiai/imam) itu sudah jatuh pada taqlid. Tapi bukankah al-Qur’an dan Hadis itu ditulis dalam bahasa Arab? Dan tidak semua orang memahami bahasa Arab. Bukankah enam ribu lebih ayat al-Qur’an itu berbentuk prosa, dan bukan hanya bisa dipahami lewat akal semata tapi juga lewat keindahan hati? Bukankah pemahaman satu ayat terkait dengan ayat lainnya, dan bagaimana pula memahami ayat dan hadis yang seolah bertentangan?

Akses umat terhadap al-Qur’an dan Hadist sebenarnya selalu terbuka sepanjang masa. Siapapun boleh membaca dan mempelajarinya. Ulama itu mengajarkan al-Qur’an dan Hadist bukan untuk membatasi. Yang dibatasi itu adalah untuk ber-istinbath dari kedua sumber utama ini. Menggali hukum dan menafsirkannya serta mengajarkannya itu jelas membutuhkan kualifikasi. Tanpa kualifikasi, orang bisa sembarangan dan seenaknya mengatakan orang lain itu salah dan sesat. Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam firmanNya:
Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)

Allah menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi petunjuk bagi semua orang. Itulah sebabnya Al-Qur’an sangat jelas dan mudah difahami. Allah pun menekankan sifat ini: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang terang.” (Surat Al-Maidah: 15) 

Al-Qur’an merupakan satu-satunya petunjuk bagi orang yang beriman di sepanjang hidupnya. Namun, untuk dapat melihat kebijaksanaan dalam Al-Qur’an dan untuk memahami kemuliaannya, seseorang harus membacanya dengan hati yang tulus dan selalu berpikir sesuai dengan hati nuraninya.

Ibnu Mas'ud Radiallaahu 'anhu pernah berkata, 
"Jika kamu ingin memperoleh Ilmu, maka hendaklah kamu memikirkan dan merenungkan makna-makna Al-Qur'an, karena didalamnya mengandung Ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sesudahnya."

Setiap kalimat yang terkandung didalam Al-Qur'anul Karim dapat dibaca dengan baik oleh semua orang, namun maksud-maksudnya baik yang tersurat maupun yang tersirat, pemahamannya berbeda-beda sesuai dengan kemampuan pembacanya. Oleh karena itu, untuk dapat memahami isi kandungan Al-Qur'an, sangatlah penting bagi kita untuk memperhatikan dan menunaikan adab-adab dan syarat-syarat penafsiran Al-Qur'an.

Jangan sesekali menyimpulkan isi kandungan Al-Qur'an bila belum memiliki keahlian didalam 15 (lima belas) ilmu, apalagi menyimpulkannya hanya berdasarkan rujukan terjemahan yang ada. Perlu disadari, Al-Qur'anul Karim memang bisa dibaca dan dimengerti oleh semua orang. Tapi tidak semua orang pula yang dapat memahami maksud yang tersirat didalamnya.

Keterangan secara ringkas, Ilmu-ilmu tersebut adalah:
1. Ilmu Lughat (philology), Ilmu yang mempelajari makna-makna dari setiap lafazh (kata) dari Al-Qur'an.

2. Ilmu Nahwu (syntax), Ilmu tata bahasa yang mempelajari hubungan antara satu kata dengan kata yang lain dan "i'rab" (perubahan bunyi disetiap huruf akhir pada suatu kalimat).Perubahan pada i'rab biasanya akan mengakibatkan perubahan pada maknanya.

3. Ilmu Sharaf (ethymology) Merupakan cabang dari Ilmu Nahwu yang mempelajari asal-usul kata dan kata benda yang dijadikan kata kerja (konjugasi). Maksud dari suatu kata dapat berubah artinya dengan mengikuti asal kata atau konjugasinya. "seseorang yang tidak memiliki Ilmu Sharaf , berarti ia telah kehilangan banyak hal dari dirinya."

4. Ilmu Isytiqaq (deriuatives), Ilmu yang mempelajari tujuan dan asal kata. Ilmu ini perlu, karena jika satu kata datang dari dua asal kata, maka akan memiliki arti yang berlainan.

5. Ilmu Ma'ani (semantik), Ilmu yang mempelajari tarkib (susunan kalimat) dari segi maknanya.Ilmu ini pun sangat penting diketahui karena bentuk suatu ayat dapat dipahami dari maknanya.

6. Ilmu Bayan (speech). Ilmu yang mempelajari cara-cara penuturan sehingga bisa diketahui makna zhahir dan maknanya yang tersembunyi, juga mempelajari perumpamaan dan kiasan.

7. Ilmu Badi' (rhetoric), Ilmu yang mempelajari keindahan bahasa.Ini salahsatu cabang Ilmu yang dapat mengungkap rahasia keindahan bahasa dan kesan-kesannya.

"Ilmu Ma'ani, Bayan dan Badi' merupakan cabang Ilmu Balaghah yang sangat penting bagi seorang ahli tafsir untuk menguasainya, sebab Al-Qur'anul Karim adalah Mukjizat yang sempurna dan susunan kalimatnya sangat mengagumkan.Dan semua itu hanya dapat dipahami setelah ketiga Ilmu ini dikuasai."

8. Ilmu Qira'at, Ilmu tentang seni penyebutan huruf,perbedaan dari segi bacaan terkadang membawa perbedaan makna dan kadang-kadang suatu kata lebih diutamakan dari kata lainnya.

9. Ilmu 'Aqaid, Ilmu yang mempelajari dasar-dasar aqidah dan keimanan.Ada beberapa ayat yang mutlak berhubungan dengan ALLAH, yang jika diartikan secara harfiah maka maknanya jadi tidak benar, sehingga untuk mengetahui makna yang sebenarnya perlu ditakwilkan.

10. Ilmu Usul Fiqih, Ilmu untuk mengetahui prinsip-prinsip perundang-undangan Islam.Dengan Ilmu ini, suatu ayat dapat dijadikan dalil dan alasan (hujjah) untuk mendukung suatu kebenaran.

11. Ilmu Asbabun Nuzul, Ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya wahyu.Dengan mengetahui kapan dan dalam keadaan bagaimana ayat itu diturunkan, maka maksud dari suatu ayat akan lebih dipahami.

12. Ilmu Nasikh Mansukh, Dengan Ilmu ini akan diketahui mana Hukum-hukum (Perintah) ALLAH, Mana yang telah dihapus atau diubah dan mana yang masih berlaku.

13. Ilmu Fiqih, Ilmu mengenai Hukum-hukum dalam Syari'at Islam.Dengan Ilmu ini kita dapat memahami secara Sempurna Hukum-hukum didalam Islam.

14. Ilmu Hadits, Ilmu untuk mengetahui Hadits-hadits tertentu yang menjadi penafsir dari ayat-ayat Al-Qur'an yang ringkas.

15. Ilmu Wahabi, Suatu bakat kepemahaman yang dikaruniakan oleh ALLAH kepada orang-orang terpilih.

(Note : wahabi yang dimaksud disini bukanlah bentuk dari suatu golongan ataupun faham dari suatu aliran keagamaan)

Cabang-cabang Ilmu diatas merupakan Alat dan Syarat-syarat yang penting bagi seorang penafsir.Penafsiran dari suatu ayat dari seseorang yang tidak benar-benar mahir dengan cabang-cabang Ilmu yang telah disebutkan diatas, terlebih jika hanya berdasarkan pendapatnya sendiri harus dicegah agar tidak terjadi perubahan/penyimpangan makna dari suatu Ayat yang mutlak kebenarannya.

Dalam kitab Kimiya Sa'adat, ada tertulis, "Tiga golongan yang tidak akan berhasil menafsirkan Al-Qur'an yaitu:

Pertama, Seseorang yang tidak mahir dalam Bahasa Arab.

Kedua, Orang yang selalu membuat dosa-dosa besar atau orang yang membuat Bid'ah, karena perbuatan ini dapat menggelapkan hatinya dan menghalanginya dari memahami Al-Qur'an.

Ketiga, Seseorang yang menggunakan alasan-alasan rasional (pikiran) semata walaupun dalam hal keimanan, ia merasa tidak suka apabila ia membaca satu ayat Al-Qur'an yang tidak sesuai dengan akal pikirannya.

Dari Abu Musa Radiallaahu 'anhu, berkata, Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, 
"Orang Mukmin yang membaca Al-Qur'an adalah seumpama buah utrujah (limau manis) yang baunya harum dan rasanya manis,
Orang Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seumpama buah kurma yang tidak mempunyai bau harum walaupun rasanya manis,
Orang Munafik yang tidak membaca Al-Qur'an seumpama buah hanzhalah yang rasanya pahit dan tidak berbau harum
dan Orang Munafik yang membaca Al-Qur'an adalah seumpama bunga raihan yang berbau harum tapi rasanya pahit."  (HR. Bukhari, Muslim, Nasai dan Ibnu Majah)

Semoga kita semua selalu dalam Lindungan dan Limpahan Rahmat Hidayah dan Maghfirah ALLAH Azza wa Jalla. Aamiin

Artikel Terkait