Bagaimana Cara Setan Menyesatkan Manusia?

Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa setan membisikkan anjuran-anjuran jahat ke dalam hati manusia. Karenanya manusia diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari bisikan jahat itu:
Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari bisikan jahat yang tersembunyi, yang dibisikkan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” (Surat An-Nas: 1-6). 

Bisikan jahat merupakan taktik setan yang paling busuk. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa pikiran-pikiran tertentu berasal dari setan. Mereka mengiranya sebagai pikirannya sendiri. Sebagai contoh, orang yang baru masuk agama Islam merupakan sasaran penting bagi setan. Setan membuat agama nampak susah dipelajari bagi orang tersebut. Atau membisikkan kepada orang tersebut bahwa apa yang diamalkannya telah cukup dan tidak perlu lagi amal-amal lainnya. Orang yang dipengaruhi ini bisa saja berpikir bahwa semua itu benar. Contoh lainnya, setan menimbulkan perasaan-perasaan takut, cemas, tegang, atau kesusahan pada manusia sehingga membuatnya kepayahan. Ia berusaha mencegah mereka dari perbuatan baik dan dari sikap dermawan, serta dari berpikir secara sehat.

Mesti diingat bahwa setan mempengaruhi manusia agar melakukan kebohongan pada setiap akar kejahatan di dunia ini, termasuk dalam peperangan, pembunuhan massa dan pelanggaran susila. Hal paling penting yang harus dipegang adalah bahwa setan tidak memiliki kekuatan sendiri. Seperti mahluk lainnya, ia pun mahluk ciptaan Allah dan ada dibawah kekuasaanNya. Ia tak dapat melakukan apapun tanpa seijinNya. Setan bisa menyesatkan manusia atas ijin Allah. Dengan cara ini, Allah menguji siapa yang turut dan siapa yang menolak ajakan setan di dunia ini. Hal ini dinyatakan Allah di dalam Al-Qur’an:
Dan tidak ada kekuasaan setan terhadap mereka, melainkan agar kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (Surat Saba’: 21)

Godaan setan tidak berpengaruh kepada orang yang sungguh-sungguh beriman. Kenyataan ini disampaikan Allah dalam ayat berikut:
Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan terhadap orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya kekuasaannya hanya atas orang-orang yang mengambilnya sebagai temannya dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (Surat An-Nahl: 99-100)

Ada enam tahapan setan dalam menyesatkan manusia.
Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya
Inilah langkah pertama yang ditempuh oleh setan, barulah ketika itu ia beristirahat dari rasa capeknya. Setan akan terus menggoda manusia agar bisa terjerumus dalam dosa pertama ini. Jika telah berhasil, pasukan dan bala tentara iblis akan diangkat posisinya menjadi pengganti iblis.

Langkah kedua: Diajak pada perbuatan bid’ah
Jika langkah pertama tidak berhasil, manusia diajak pada perbuatan bid’ah. Perbuatan ini lebih disukai oleh iblis daripada dosa besar atau pun maksiat lainnya. Karena bahaya bid’ah itu:
  1. Membahayakan agama seseorang,
  2. Membahayakan orang lain, jadi ikut-ikutan berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunan,
  3. Orang yang berbuat bid’ah akan sulit sadar untuk taubat karena ia merasa amalannya selalu benar,
  4. Bid’ah itu menyelisihi ajaran Rasul dan selalu mengajak untuk menyelisihi ajaran beliau.
Setan yang menggoda seperti ini pun juga akan diangkat sebagai pembantu iblis jika telah berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini.

Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar (al-kabair)
Kalau langkah kedua tidak berhasil, setan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar, lebih-lebih jika ia adalah seorang alim (berilmu) dan diikuti orang banyak. Setan lebih semangat lagi menyesatkan alim semacam itu supaya membuat manusia menjauh darinya, maksiat semacam itu pun akan mudah tersebar, dan akan dirasa pula bahwa maksiat itu malah mendekatkan diri pada Allah. Yang berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini, dialah yang nanti akan menjadi pengganti iblis.

Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil (ash-shaghair)
Jika setan gagal menjerumuskan dalam dosa besar, setan akan mengajak pada dosa kecil. Dosa kecil ini juga berbahaya.

إياكم ومحقرات الذنوب كقوم نزلوا في بطن واد فجاء ذا بعود وجاء ذا بعود حتى انضجوا خبزتهم وإن محقرات الذنوب متى يؤخذ بها صاحبها تهلكه
“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seseorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, 5: 331, no. 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya)
Namun karena sibuk dengan yang mubah mengakibatkan luput dari pahala. Jika setan tidak mampu menggoda dalam tingkatan kelima ini, maka seorang hamba akan benar-benar tamak pada waktunya. Ia akan tahu bagaimanakah berharganya waktu. Ia pun tahu ada nikmat dan ada akibat jelek jika tidak menjaganya dengan baik. Jika tidak mampu dalam langkah kelima, maka setan beralih pada langkah yang keenam.

Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal
Setan akan menggoda manusia supaya ia luput dari pahala amalan yang lebih utama dan ia terus tersibukkan dengan yang kurang afdhal.

Mengenal enam langkah ini seharusnya membuat kita bisa melakukan prioritas dalam beramal dan mencari manakah yang paling diridhai oleh Allah.

Artikel Terkait