Benarkah Allah Menjaga Al-Qur’an Dari Perubahan Hingga Saat Ini?

Keasliannya Al-Qur’an ini dijamin sendiri oleh Allah dalam firmanNya :
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Qur’an Surat Al-An’am ayat 115)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qur’an Surat Al-Hijr ayat 9)

Namun, dapatkah kita berargumen bahwa Al-Qur’an terjaga atau terpelihara keasliannya hanya dengan berargumen ayat-ayat diatas? Mungkin saja ayat-ayat tersebut dibuat oleh manusia, jadi belum tentu Al-Qur’an terjaga keasliannya. Untuk menjawab permasalahan ini, marilah kita telusuri sejarah teks Al-Qur’an sehingga kita akan meyakini dengan benar bahwa Allah menjaga keaslian Al-Qur’an.

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, ayat Al-Qur’an sudah mulai ditulis. Para sahabat Nabi pun banyak yang khatam (hapal) Al-Qur’an, dan kebiasaan untuk menghapal Al-Qur’an itu terwarisi sehingga banyak orang-orang yang hapal seluruh teks Al-Qur’an (Hafiz Qur’an) hingga saat ini. Pada saat penulisan Al-Qur’an pun Nabi selalu mengecek kembali apakah benar yang dituliskan sahabat pada suhuf-suhuf. Nabi pun sering meminta dibacakan ayat Al-Qur’an didepan dirinya.

Al-Qur’an dilindungi Allah, Ia diturunkan 1400 tahun yang lalu dan tidak mengalami perubahan sedikitpun hingga saat ini. Janji Allah ini sudah cukup bagi orang-orang yang beriman. 

Adapun sunnah (hadits Rasulullah Shalallahu alahi wassalam), keberadaannya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Baihaqi, berkedudukan sebagai penjelas yang berasal dari Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)

Oleh karena itu, sunnah secara keseluruhan terpelihara dengan pemeliharaan-Nya, karena ia termasuk peringatan (zikir) dari peringatan (Al-Qur’an). (Tahqiq Al-Ba’its al-Hatsits, 1/7)

Al-Qur’an Selalu Terpelihara Lafadz dan Maknanya
Dalam ayat Al-Hijr: 9 yang mulia ini Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa Dia-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan memeliharanya dari penambahan, pengurangan, maupun pengubahan (Asy-Syinqithi t, 2/225)

Allah Subhanahu wata’ala memelihara Al-Qur’an dari upaya syetan yang ingin menambahkan kebatilan ke dalamnya dan mengurangi kebenarannya, sehingga Al-Qur’an tetap terpelihara (Al-Qurthubi t (10/5) berdasarkan ucapan Qatadah dan Tsabit al-Bunani)

Al-Qur’an terpelihara saat diturunkan maupun setelahnya. Saat diturunkan, Allah Subhanahu wata’ala memeliharanya dari upaya setan yang ingin mencuri-curi beritanya. Adapun setelah diturunkan, Allah Subhanahu wata’ala menyimpannya di hati Rasulullah Shalallahu alahi wassalam, kemudian di hati umatnya.

Allah Subhanahu wata’ala menjaga lafadz-lafadznya dari perubahan, baik penambahan maupun pengurangan. Allah Subhanahu wata’ala juga menjaga makna-maknanya dari perubahan dan penggantian. Tidak seorang pun yang berusaha memalingkan salah satu makna pada Al-Qur’an, melainkan Allah Subhanahu wata’ala pasti mendatangkan orang yang akan menjelaskan kebenaran yang nyata. Ini merupakan salah satu tanda keagungan ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala dan kenikmatan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin. Di antara bentuk pemeliharaan Allah Subhanahu wata’ala terhadap Al-Qur’an juga adalah Dia (Subhanahu wata’ala) memelihara ahlul Qur’an dari musuh-musuh mereka. Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan mereka dari gangguan musuh. (asy-Syaikh as-Sa’dit, )

Ayat lain yang semakna di antaranya firman Allah Subhanahu wata’ala: “Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya.” (Fushshilat: 42)

Juga firman Allah Subhanahu wata’ala:
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka itulah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah: 16—19)

Al-Imam Al-Baidhawi (3/362) mengatakan, “Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap sikap orang-orang kafir yang senantiasa mengingkari dan memperolok-olok Al-Qur’an. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menguatkannya (Al-Qur’an) dengan firman-Nya: 
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Maksudnya, memeliharanya dari penyimpangan, baik huruf maupun makna, dan penambahan maupun pengurangan. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan Al-Qur’an sebagai suatu keajaiban (mukjizat), guna membedakan apa yang tertera padanya dengan ucapan manusia.”

Ath-Thabari (14/8) berkata, “Allah Subhanahu wata’ala memelihara Al-Qur’an dari penambahan kebatilan yang bukan bagian darinya, atau pengurangan hukum, batasan, dan kewajiban yang seharusnya ada padanya.”

Hadits Nabi Juga Terpelihara Sebagaimana Terpeliharanya Al-Qur’an “Sunnah (hadits) Rasulullah Shalallahu alahi wassalam dan Al-Qur’anul Karim berasal dari sumber yang sama. Hilang (tersia-siakan)nya sebagian hadits—yang merupakan penjelas bagi Al-Qur’an—adalah pendapat yang bertentangan dengan janji Allah Subhanahu wata’ala untuk memeliharanya.” (Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah)

Dengan demikian, sunnah Rasulullah Shalallahu alahi wassalam yang suci termasuk bagian dalam janji Allah Subhanahu wata’ala yang benar, yaitu benar-benar terpelihara dan terjamin. (Lihat An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Shalah 1/9)

Adapun sunnah (hadits Rasulullah Shalallahu alahi wassalam), keberadaannya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Baihaqi, berkedudukan sebagai penjelas yang berasal dari Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)

Oleh karena itu, sunnah secara keseluruhan terpelihara dengan pemeliharaan-Nya, karena ia termasuk peringatan (zikir) dari peringatan (Al-Qur’an). (Tahqiq Al-Ba’its al-Hatsits, 1/7)

Upaya dan Cara Umat Nuslim Memelihara Al-Qur’an dan Hadits
Kaum muslimin sejak generasi pertama sangat memperhatikan pemeliharaan sanad-sanad syariat mereka dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini tidak dilakukan oleh umat sebelum munculnya Nabi Muhammad Shalallahu alahi wassalam.

Umat Rasulullah Shalallahu alahi wassalam menghafal dan meriwayatkan Al-Qur’an dari Rasulullah Shalallahu alahi wassalam secara mutawatir. Ayat demi ayat, kalimat demi kalimat, huruf demi huruf, terpelihara dalam dada dan dikukuhkan dengan tulisan pada mushaf (Al-Qur’an). Sampai-sampai mereka meriwayatkan berbagai sisi pengucapannya berdasarkan dialek qabilah. Mereka juga meriwayatkan jalan penulisan (bentuk huruf) dalam mushaf. Mereka menulis kitab yang panjang lagi sempurna dalam hal ini. (Asy-Syaikh Ahmad Syakir)

Mereka juga menghafal dari Nabi mereka, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, semua ucapan, perbuatan, dan keadaan beliau. Beliau Shalallahu alahi wassalam adalah penyampai (syariat) dari Rabbnya, penjelas syariat-Nya. Beliau Shalallahu alahi wassalam diperintahkan untuk melaksanakan agama-Nya. Setiap ucapan dan keadaan beliau adalah penjelas bagi Al-Qur’an. Beliau adalah seorang rasul yang ma’shum dan menjadi suri teladan yang baik bagi umatnya. Allah Subhanahu wata’ala menerangkan sifat Beliau Shalallahu alahi wassalam:
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3—4).

Juga firman Allah Subhanahu wata’ala:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)

Juga firman Allah Subhanahu wata’ala:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (Al-Ahzab: 21)
loading...

Artikel Terkait

Amalan Ibadah Yang Harus Dilakukan Seorang Muslim Selama Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan bagi umat muslim seluruh dunia merupakan bulan penuh berkah, hikmah dan ampunan, karena berbagai amal perbuatan dapat menjad...

MY ARTIKEL