Dapatkah Seseorang Menanggung Dosa Orang Lain?

Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia. Setiap orang akan melihat apa yang diperbuatnya, dan tak seorangpun bisa menolong orang lain. Ini dinyatakan dalam ayat berikut: 
Orang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya meminta tolong untuk dipikulkan dosanya, tak ada seorangpun akan memikulkan untuknya meskipun itu kaum kerabatnya... (Surat Al-Fatir: 18) 

Telah tersebar satu fahaman bahawa manusia tidak menanggung dosa orang lain. Lalu ramai orang berpegang pada fahaman ini dengan menggunakan ayat di bawah:
"Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (Q.S. An-Nisaa' ayat 59)

Dalam Islam tidak ada konsep pikul-memikul dosa. Dosa menjadi tanggung-jawab masing-masing dan tidak dapat dialihkan kepada orang lain. Jadi jelas bahwa pernyataan "kalau salah dosanya ditanggung oleh orang lain" adalah pernyataan yang tidak sesuai dengan syari'at Islam. Ayat ini sebenarnya membawa maksud seseorang yang melakukan dosa sendiri hanya akan menanggung dosa itu sendiri, orang lain tidak akan bertanggungjawab terhadap dosanya. Sebagai contoh anak zina tidak menanggung dosa zina oleh ibu bapanya.

Ayat ini juga merupakan hujah yang jelas kepada kaum ahli kitab yang menganggap setiap anak yang baru lahir adalah berdosa kerana terpaksa menanggung dosa Nabi Adam dan Hawa. Disebabkan itu mereka menyangka bahwa setiap anak yang baru lahir kemudian mati sebelum sempat bertaubat akan dimasukkan ke dalam neraka kerana anak itu dipenuhi dosa. Kenyataan ini benar-benar bertentangan dengan syariat Islam. Dalam Islam anak yang baru lahir adalah suci dari dosa. Meskipun anak zina atau anak orang kafir sekalipun. 

Syeikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi menjelaskan:
Misalnya, saya datang kepada seorang yang tidak tahu minum arak, lalu saya pun memujuk dan merayunya hingga akhirnya ia ikut saya dan minum arak, ia tetap berdosa kerana ia telah bermaksiat kepada Allah dan telah minum arak. Dan saya juga berdosa, karena saya telah menyesatkannya dan membujuknya untuk melakukan maksiat. Kalau tidak kerana pujuk rayu saya, tentulah dia tidak tahu minum arak itu.

Dari sini jelaslah, bahwa ayat pertama dimaksudkan dengan orang yang sesat dirinya sendiri, atau salah dirinya sendiri (Contohnya, minum arak seorang diri, tanpa ajak orang lain, maka dosa minum arak itu dosanya sendiri, orang lain tidak berdosa).

Adapun ayat kedua pula dimaksudkan dengan orang yang menyesatkan orang lain dari jalan Allah Taala, sebab itu ia juga akan menerima nasib yang sama seperti yang dilakukan oleh orang yang disesatkannya itu (contohnya, dia minum arak, tapi bukan sendirian, malah ajak lagi teman-temannya yang lain ikut sama minum arak, maka dia berdosa dan akan pikul dosa teman yang dia ajak itu).

Hujah bahwa pemimpin, ayah dan setiap orang akan dipertanggungjawabkan atas kepimpinannya.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya mengenai kepimpinannya. Imam (Ketua Negara) adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai kepimpinannya, Suami (bapa) adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai kepimpinannya, Wanita pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya mengenai kepimpinannya, Orang Gaji adalah pemimpin kepada harta benda yang diamanahkan kepadanya dan dia akan ditanya mengenai kepimpinannya. Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan kamu akan ditanya mengenai kepimpinan kamu”. – Hadis Riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmizi dan Ahmad.

“Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu adalah bertanggungjawab terhadap kepimpinan itu” – Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, Shahih Bukhari dan Muslim.

Daripada Abi Hurairah (ra) bahwa sesungguhnya Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda:
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk (hidayah), maka baginya ganjaran pahala sama seperti pahala orang yang mengikutinya dengan tidak dikurangi sedikitpun, dan barangsiapa yang mengajak kepada dhalalah (kesesatan), maka (dibebankan) ke atasnya dosa sama seperti dosa orang yang megikutinya dengan tidak dikurangi sedikitpun”. [Hadis Sahih Riwayat Muslim]

Contoh:
Berzina adalah berdosa. Yang menanggung dosa berzina itu ialah penzina itu sendiri. TETAPI apabila aktivitas zina itu dijadikan sebuah video, terdapat beberapa orang lain perlu menaggung dosa karena terlibat melakukan dosa seperti berikut:
1: Perakam video ~ Berdosa kerana merakam aktivitas zina.
2: Penjual ~ Berdosa kerana menjual video yang haram.
3: Penonton ~ Berdosa kerana menonton video.

Dan si penzina tadi perlu menanggung dosa setiap orang yg melihatnya kerana dia membuatkan orang lain cenderung melakukan maksiat. Hal ini ada dijelaskan dalam hadis Rasulullah: Dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu:
1. Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam);
2. Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat , rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan boleh masuk syurga, serta tidak dapat akan mencium bau syurga, padahal bau syurga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian .”(Riwayat Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah menyebut: “Sesiapa yang membantu mempertahankan kezaliman, maka dia akan berada dalam kemurkaan Allah, sehinggalah dia meninggalkannya”. (Riwayat Ibnu Majah)

Saya beri satu contoh lagi:
Mimun arak adalah berdosa. Tetapi bukan hanya si peminum arak saja yang berdosa karena arak itu, tetapi 10 golongan lain juga perlu menanggung dosa.

“Daripada Anas Bin Malik, dia berkata : Rasulullah s.a.w telah melaknat yang berkaitan dengan arak 10 golongan : yaitu yang memerahnya , yang meminta diperahkan, yang meminumnya, yang membawanya, yang minta dibawakan arak kepadanya, yang menuangkannya, yang menjualnya, yang makan harganya, yang membelinya dan yang minta dibelikannya” (HR. at-Tirmidzi)

Artikel Terkait