Peliharalah Mulutmu Dari 8 Hal, Jika Ingin Hidup Anda Bahagia!!

Mulut diciptakan oleh Allah sebagai sarana agar Anda memperbanyak zikir menyebut-Nya, membaca Kitab-Nya, memberikan petunjuk pada manusia lain akan jalan-Nya, dan sebagai medium untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati nurani berupa kebutuhan agama dan keduniawianmu. Maka jika Anda menggunakannya tanpa menuruti proporsi dan tujuan penciptaannya, berarti Anda telah mengingkari nikmat karunia Allah. Mulut adalah anggota badan yang paling rentan bagi dirimu dan [orang] yang lain untuk dipanggang di dalam bara api Neraka akibat laku lisan mereka. Maka, berhati-hatilah dengan mulutmu dengan segala daya kekuatanmu sehingga ia tidak akan mencampakkanmu ke dalam kerak Neraka Jahannam. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berbicara satu kata agar kawan-kawannya tertawa, dan dengan sebab itu ia dimasukkan ke dalam kerak jahannam selama 70 musim gugur”.

Oleh karena itu, peliharalah mulutmu dari 8 hal:
Pertama, berbohong. 
Jagalah mulutmu dari prilaku ini dalam keadaan serius ataupun gurauan. Jangan biasakan mulutmu mengucap kebohongan sambil ber-guyon, karena hal itu akan mendorongnya berbohong secara serius. Bohong merupakan pangkal dosa-dosa besar. Kemudian, jika Anda sudah terlanjur dikenal sebagai tukang bohong, maka tidak akan ada kepercayaan terhadap kata-katamu. Semua manusia akan menyepelekan dan menghinamu. Jika anda ingin mengetahui buruknya kebohongan dirimu, tengoklah kebohongan orang selainmu. Perhatikan bagaimana Anda berpaling menjauhinya, menghinakan pengucapnya, dan menganggap jelek setiap hal yang disampaikannya. Dengan demikian, Anda seharusnya menyadari seluruh aib diri sendiri. Anda tidak akan mengetahui keburukan aib diri sendiri, kecuali melalui pengawasan terhadap aib orang lain. Apa yang kamu anggap jelek pada orang lain, pasti akan dianggap jelek pula jika ada pada dirimu oleh orang lain. Jelas Anda tidak akan menyukai hal tersebut.

Kedua, mangkir [ingkar] janji. 
Jangan sampai Anda berjanji tetapi tidak ditepati. Kebaikanmu pada orang lain harus diwujudkan dalam bentuk konkret tanpa perlu beretorika. Jika memang Anda terpaksa harus berjanji, jangan sampai Anda menunda-nuda bahkan memangkirinya kecuali jika memang karena betul-betul tidak mampu memenuhinya atau karena faktor darurat. Sesungguhnya mangkir janji termasuk bukti kemunafikan dan noda keburukan akhlak. Nabi Saw. Bersabda: “(Ada) tiga perkara yang barangsiapa melakukannya maka ia termasuk orang munafik meskipun ia berpuasa dan shalat: kalau berkata ia dusta, kalau berjanji ia ingkar, dan kalau dipercaya ia khianat”.

Ketiga, menggunjing [gibah]. 
Jagalah lisanmu dari gibah, karena dalam Islam gibah lebih buruk daripada 30 pezinah. Demikian dikemukakan dalam sebuah Hadits. Gibah, berarti Anda menyebutkan sesuatu tentang seseorang yang jika ia mendengarnya pasti akan marah (tersinggung, sakit hati). Anda tetap disebut sebagai penggunjing [mugtab] yang zalim meski gunjinganmu benar adanya. Jangan Anda memperbincangkan seorang qari’ [pembaca Alquran] yang bersuara sumbang, misalnya meskipun secara implisit. Umpamanya Anda berkata: “Semoga Allah memperbaikinya. Apa yang dia lakukan masih belum bagus dan jelek. Marilah kita memohon kepada Allah agar Dia memperbaiki kita dan orang itu.” Dalam kasus ini terhimpun dua kejelekan. Pertama gibah yang dipahami secara implisit, dan kedua pensucian diri dengan mencela dan memperbaiki. Jika memang Anda serius mendoakannya, maka berdoalah dalam hati tanpa perlu menunjukkan kekurangannya, karena dengan menunjukkan ketidak-jelasan sikap ini, Anda juga sebenarnya telah menunjukkan aksi pencelaan. Maka, hendaklah Anda mencegah diri dari gibah sekecil dan sesamar apa pun. Allah berfirman: “...Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?, maka tentunya kami akan merasa jijik kepadanya.” (Q.S. al-Hujurat [49]: 12) Allah telah menyamakan Anda dengan pemakan daging hewan mati, maka sebaiknya berhati-hatilah menjaga diri dari menggunjing orang.

Jika Anda mau, ada suatu laku yang dapat mencegahmu tidak menggunjing kaum Muslimin. Yaitu dengan instropeksi dan mengaca diri, apakah tidak ada dalam dirimu aib keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi? Apapkah Anda sudah menjauhi kemaksiatan secara rahasia maupun terang-terangan? Jika Anda sudah mengetahui kekurangan diri sendiri, maka ketahuilah bahwa kelemahan orang yang Anda pergunjingkan demi mensucikan diri sendiri sama artinya dengan kelemahan Anda menghilangkan kejelekan dirimu sendiri. Sebab halangan yang merintanginya sama dengan halangan yang engkau hadapi. Maka, sebagaimana Anda tidak suka kejelekan Anda diungkit-ungkit dan diperbincangkan, begitu juga ia tidak akan suka aib dirinya anda bicarakan. Alangkah baiknya jika Anda menutupi aib-aibmu. Dan jika Anda mengungkitnya, maka Allah pun tidak segan-segan menguasakan mulut-mulut yang pedas untuk merobek-robek kehormatanmu di dunia, di samping kelak Dia akan mempermalukanmu di hadapan seluruh makhluk di hari kiamat.

Jika Anda usai mengamati zahir-batinmu dan tidak mendapatkan aib atau kekurangan apa pun dalam hal beragama dan keduniaan, maka ketahuilah bahwa ketidak-tahuan Anda akan aib dan cela diri termasuk ketololan yang paling bodoh, dan tidak ada cela yang lebih besar daripada sebuah kebodohan. Jikalau Allah menginginkan kebaikan atas dirimu, niscaya Dia akan membukakan akan aib-aib dan cela dirimu. Melihat diri dengan pandangan rida [puas] merupakan puncak kebodohan dan ketololan. Selanjutnya jika Anda memang benar dengan persangkaanmu [tak ada cela], maka bersyukurlah pada Allah dan jangan Anda mengotori dan merusaknya dengan mengumpat dan berkata yang menyakitkan, karena hal itu merupakan aib yang besar.

Keempat, cekcok dan berdebat dalam masalah Kalam [teologi]. 
Hal ini lebih dikarenakan subtansi perdebatan hanya akan menggelorakan semangat ‘menyakiti’ [iza] pada lawan debat, pembodohan dan pelecehan di satu sisi, dan di sisi lain menunjukkan pujian dan pensucian diri sebagai lebih cerdas dan lebih berilmu. Di samping itu, perdebatan masalam Kalam juga akan mengganggu stabilitas hidup. Jika Anda mencela seseorang sebagai bodoh dan tolol, maka ia pasti akan berusaha menyakitimu, dan jangan coba-coba mencela orang yang sabar, karena ia akan menyakiti dan mendengkimu. Nabi Saw. Bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan cekcok dan ia adalah orang yang salah, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di pinggiran Surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan cekcok dan ia sebagai yang benar, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di puncak Surga.”

Jangan sampai tertipu dan terpedaya oleh setan ketika ia berkata membujukmu, “Tunjukkan kebenaran dan jangan bersikap lemah!” Sesungguhnya setan selalu memperdayai orang-orang bodoh pada kejelekan dengan umpan menunjukkan kebaikan. Jangan sampai anda menjadi bahan tertawaan setan, sehingga ia akan mengolok-olokmu sesukanya. Menunjukkan kebenaran akan bernilai baik jika dibarengi dengan sikap ramah. Yaitu dengan cara menasehati orang yang Anda pandang keliru di belakang dan bukan di depan umum lewat jalan berdebat. Nasihat memiliki sifat dan kondisi yang memerlukan sentuhan kehalusan, sebab jika tidak, ia akan berubah menjadi skandal.

Singkatnya, perdebatan masalah Kalam lebih banyak mengandung unsur destruktif daripada potensi kebaikan. Barangsiapa yang bergaul dengan kalangan mutafaqqih [pseudo-faqih [faqih: ahli ilmu fiqh/hukum-hukum syariat]] jaman sekarang, ia akan dipengaruhi watak polemis dan berdebat, dan akan menjadi sulit diam, karena ulama-ulama su’ [berwatak jelek] menyebut perdebatan ini sebagai kemuliaan, dan kemampuan berargumentasi dan mendebat merupakan sumber bagi decak-kagum pujian. Maka hindarilah mereka sebagaimana Anda lari menghindar dari singa buas. Ingat! Debat dan pertengkaran mulut merupakan sumber kebencian Allah dan segenap makhluk.

Kelima, menganggap diri suci. 
Allah berfirman: “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang paling bertakwa.” (Q.S. an-Najm [53]: 32) Bahkan sebuah aforisma orang bijak menyebutkan bahwa kejujuran yang jelek adalah memuji diri sendiri. Maka jangan lah Anda membiasakan hal tersebut. Ketahuilah! Hal itu akan mengurangi nilaimu di hadapan manusia dan menyulut kebencian Allah Swt. Jika memang Anda ingin mengetahui kenyataan bahwa pujianmu atas dirimu sendiri akan mengurangi nilai penghormatan manusia atasmu, maka tengoklah ketika kolega-kolegamu memuji-muji diri merka sendiri dengan segala kemuliaan, kedudukan dan harta di hadapanmu, bagaimana dongkol dan kesal hatimu menanggapinya serta bagaimana celamu atas mereka saat Anda meninggalkan mereka. Ketahuilah, mereka juga akan mencelamu dalam hati dan mencacimu dengan mulut saat mereka jauh darimu ketika Anda memuji dan menganggap suci dirimu sendiri.

Keenam, mengumpat. 
Janganlah Anda sekali-kali mengutuk satu ciptaan Allah; baik binatang, makanan, atau manusia. Dan janga pula Anda pastikan kesaksianmu atas salah seorang ahl al-qiblah sebagai bersyukur, kafir dan nifaq karena yang tahu masalah hati hanyalah Allah Swt. Janganlah ikut campur dalam urusan Allah dan hamba-hamba-Nya. Ketahuilah! Pada Hari Kiamat kelak Anda tidak akan ditanyai mengapa tidak mengutuk atau mengumpat si “X” dan mengapa membiarkannya begitu saja. Bahkan jika Anda tidak pernah mengutuk iblis sepanjang umurmu dan tidak kau sibukkan mulutmu menyebutnya, Anda tidak akan ditanyai tentang hal tersebut dan tidak akan dituntut pada hari kiamat. Atan tetapi, jika Anda melaknat satu orang saja dari makhluk Allah, maka Anda akan ditanyai tentang aksi tersebut. Maka, jangan sekali-kali kau mencela dan memaki makhluk Allah, karena Nabi Saw. Sendiri tidak pernah mengumpat makanan yang tidak enak. Dan tradisi beliau, jika suka akan memakannya dan jika kurang suka maka akan langsung meninggalkannya [tanpa embel-embel mengumpatnya].

Ketujuh, mendoakan jelek. 
Jagalah mulutmu dari mengucap doa jelek atas makhluk Allah. Jika memang dia menzalimi Anda, cukuplah Anda menyerahkan urusannya pada Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Sesungguhnya orang yang dizalimi tidak mendoakan jelek pada orang yang menzaliminya kecuali ia sejajar dengannya, bahkan si penzalim lebih memiliki keutamaan, karena orang yang ia zalimi akan dimintai pertanggunjawaban akan doa jeleknya ini kelak di hari kiamat.”

Kedelapan, menyindir, mengolok-olok dan mentertawakan manusia.
Jagalah mulutmu dari perbuatan ini dalam kondisi serius dan guyonan. Karena hal itu menurunkan paras muka, menjatuhkan kewibawaan, menggelorakan kebuasan, dan menyakitkan hati. Laku ini adalah permulaan sikap permusuhan, kemarahan dan kekerasan, serta menanamkan kedengkian dalam hati. Maka janganlah menyindir orang. Kalaupun Anda disindir, jangan kau balas dan layani. Berpaling sajalah dari mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan masalah lain. Jadilah kelompok orang yang jika melalui kelalaian, mereka melewatinya dengan kemuliaan.

Demikianlah himpunan petaka-petaka mulut. Syahdan Abu Bakr as Siddiq ra. sampai menaruh batu kecil di mulutnya untuk mencegahnya dari berbicara yang tidak perlu. Ia menunjuk ke mulutnya sambil berkata, “Inilah yang menyeretku pada blunder semua masalah”.

Artikel Terkait

loading...