Kenapa Umat Islam Tidak Dapat Bersatu?

Mendambakan Kaum Muslimin Bersatu apakah hanya mimpi? Dalam Barisan Shalat Saja Mereka Berpecah Belah (Tidak Mau Merapatkan Shafnya), Apalagi Yang Lain !! Apakah Ini Musibah !! Saya memperhatikan bahwa pada sebagian besar masjid/musholla yang telah saya kunjungi untuk melaksanakan shalat, senantiasa terdapat beberapa laki-laki dan wanita yang melaksanakan sholat berjama’ah, NAMUN antara jama’ah tersebut terdapat jarak/celah yang lebarnya bahkan sampai 1 (satu) meter.

Terkadang bila sholat berjama’ah dan saya bermaksud merapatkan shaf, maka jama’ah disebelah kanan/kiri malah semakin menjauhkan kaki mereka dari kaki saya, apakah mereka tidak mengerti merapatkan shaf itu apa?

Kedua kondisi diatas tersebut membuat kita sedih, karena dalam Islam pada saat melaksanakan sholat berjama’ah kita hendaknya dan dianjurkan untuk senantiasa meluruskan shaf dan menutup celahnya atau merapatkannya. Hal tersebut berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, dia bercerita, Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda :
"Sesungguhnya Allah dan Para Malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang menyambung barisan. Barang siapa menutupi kerenggangan (yang ada dalam barisan), niscaya dengannya Allah akan meninggikannya satu derajat".
(HR. Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah,Al-Hakim, dan dinilai Shahih oleh Adz-Dzahabi dan al-Albani).

Kemudian, Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shollallahu’alayhi wa Sallam bersabda :
“Hendaklah kamu benar-benar meluruskan shafmu, atau (kalau tidak) maka Allah akan jadikan perselisihan di antaramu.” (Muttafaq ‘alaihi, Bukhari No. 717 dan Muslim No.436).

Diriwayatkan pula Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda :
“Luruskanlah shaf-shafmu! Sejajarkan antara bahumu (dengan bahu saudaranya yang berada disamping kanan dan kiri), isilah bagian yang masih renggang, berlaku lembutlah terhadap tangan saudaramu (yang hendak mengisi kekosongan atau kelonggaran shaf), dan janganlah kamu biarkan kekosongan yang ada di shaf untuk diisi oleh setan.

Dan barangsiapa yang menyambung shaf, pastilah Allah akan menyambungnya, sebaliknya barang siapa yang memutuskan shaf; pastilah Allah akan memutuskannya. (Shahih. Abu Dawud no. 666, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al Hakim, Nawawi dan al Albani. Lihat : Fathul Bari (II:447) dan Shahihut Targhib Wat Tarbib no. 492).

Sering kita mendengar imam shalat bilang/memerintahkan kepada jamaahnya “Luruskan shaf dan rapatkan barisan”. Lalu, mungkin banyak dari kita yang menganggap ucapan imam tadi hanya sebagai syarat kesempurnaan shalat saja. Atau mungkin kita lupa dengan hadits yang berbunyi : “Luruskanlah barisanmu atau Allah akan menaruh permusuhan dan kemarahan dalam hati kalian”. (HR. Muslim).

Padahal Rasulullah bersabda :
"Rapatkanlah shaf-shaf kalian, saling dekatkan, dan luruskan dengan leher-leher kalian. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat syaithan masuk ke celah shaf seperti seekor anak domba”. (HR Abu Dawud).

Sedangkan dalam riwayat lain :
“Tegakkanlah shaf-shaf, sejajarkanlah antara pundak-pundak, tutuplah celah-celah dan lemah lembutlah terhadap kedua tangan saudara kalian dan janganlah kalian membiarkan celah-celah itu untuk setan, barangsiapa yang menyambung shaf maka Allâh akan menyambungnya dan barang siapa yang memutusnya maka Allâh Allâh akan memutusnya”. (HR. Abu Dawud no. 570).

Hadits diatas sangat gamblang/jelas menjelaskan kepada kita bahwa umat Islam diperintah untuk meluruskan dan merapatkan barisan shalat berjama'ah, renggangnya barisan jama'ah MERUPAKAN CELAH BAGI SETAN UNTUK MENGGODA ORANG-ORANG YANG SEDANG SHALAT.

Bila kita baca hadits diatas, ternyata meluruskan dan merapatkan shaf TIDAK HANYA UNTUK KESEMPURNAAN SHALAT, TAPI JUGA UNTUK PERSATUAN UMAT ISLAM !!

Hari Ini Umat Islam Bertanya, Mengapa Kita Belum Bersatu ?
Tentu banyak sekali sebabnya. Sehingga solusinya pun banyak. Nah meluruskan dan merapatkan barisan dalam shalat bisa jadi salah satu solusinya. Dan hal yang disayangkan, PERINTAH MERAPATKAN DAN MELURUSKAN SHAF TIDAK BENAR-BENAR DIPERHATIKAN OLEH SEBAGIAN KAUM MUSLIMIN BELAKANGAN INI !!

Bahkan, fakta di lapangan ada beberapa orang yang merasa risih ketika harus saling menempelkan kaki (tumit) dan lengan, meskipun imam shalat senantiasa mewasiatkannya setiap akan memulai takbir. Atau mungkin tak secuil orang berpendapat, ah itu hanya sunnah, dilakukan berpahala, tidak dilakukan tidak berdosa.

Benarkah demikian pemahamannya ?
Akibatnya shaf dalam shalat terlihat tidak rapi, renggang dan berjarak (ada celah). Kelihatannya mudah, NAMUN solusi tadi TERNYATA BERAT dilakukan oleh sebagian orang. Saya pernah merapatkan sisi telapak kaki saya ke sisi telapak kaki sebelah saya, namun sebelah saya malah bergeser, sehingga ada celah diantara kami. Kemudian saya berusaha rapatkan lagi, lagi-lagi dia bergeser. Akhirnya saya tidak mau merapatkan lagi karena nanti bisa membuat dia marah.

Tapi saya tidak tahu mengapa dia tidak mau merapatkan barisan. Apakah dengan rapatnya barisan mengurangi konsenterasi shalatnya ? Rasanya tidak.
Apakah dengan rapatnya barisan bisa membuat telapak kakinya kotor ?
Apakah dengan dengan rapatnya barisan menimbulkan rasa sakit pada telapak kakinya ?
Apakah kulit saudara kita seiman bernajis ?
Sungguh rasanya terlalu berlebihan hal seperti itu.

Kemudian ada sebagian orang yang shalat berjamaah dengan membawa sajadahnya masing-masing, lalu shalat di atasnya. Tidak ada masalah dengan hal itu. Yang jadi masalah, dia shalat di atas sajadahnya, padahal masih ada celah antara dia dan sebelahnya, NAMUN DIA TIDAK MAU MERAPATKAN BARISAN. Entah karena begitu mahal harga sajadahnya, entah karena dia sangat sayang dengan sajadahnya ?
Atau entah karena dia takut sajadahnya kotor apabila digunakan bersama dengan sebelahnya ?
Bukankah dia, sebelahnya, dan yang lainnya ketika sujud, sama rata dan sama pangkatnya sebagai hamba di hadapan Allah ?
Bukankah dia, sebelahnya, dan yang lainnya adalah saudara seiman ?
Lantas pantaskah dia membeda-bedakan sebelahnya ?
Bukan kekayaan atau kemiskinan, bukan ketampanan atau kejelekan, dan bukan atasan atau bawahan yang membuat umat Islam berbeda di hadapan Allah, melainkan seberapa besar ketaqwaannya kepada Allah. Di tengah perpecahan umat Islam saat ini, tentu harga persatuan umat Islam jauh lebih mahal dari harga sajadah kita. Pada hakikatnya perselisihan bukan merupakan rahmat.

JADI, JANGAN MENGANGGAP BAHWA PERBEDAAN ADALAH RAHMAT, ITU KELIRU BESAR. KARENA ZAMAN SEKARANG DENGAN ZAMAN NABI DAHULU BERBEDA

Hal itu memang sangat berbeda pada zaman Nabi dahulu dengan zaman sekarang. Karena pada zaman Nabi dahulu ketika ada perbedaan maka solusi penyelesaiannya langsung mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Nabi. Tapi untuk sekarang ini perbedaan dan perselisihan cenderung kepada perpecahan, kerusakan, kebencian sesama umat dan kemunduran umat.

Dan sejujurnya kita tentu pasti memilih dan menginginkan persatuan. Oleh karena itu MARI LURUSKAN DAN RAPATKAN barisan shalat, agar kita mendapatkan janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pasti, yaitu PERSATUAN UMAT ISLAM !!

Sedangkan Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan memberikan nasihat tentang wasilah menuju persatuan umat (solusi), diantaranya :
1. Meluruskan aqidah
2. Mendengar dan taat kepada pemimpin dalam ketaatan kepada Allâh
3. Kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah untuk mengatasi perselisihan
4. Mendamaikan dua golongan yang bertikai
5. Memerangi orang atau kelompok yang ingin memecah-belah kaum muslimin.

Dan memang salah satu faktor terbesar dari perselisihan itu adalah FENOMENA AMNESIA UMAT ISLAM TERHADAP PEDOMAN HIDUP yang telah diwariskan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Mengenai salah satu penyebab perselisihan ini pun, Nabi Muhammad telah memberikan metode preventif sejak jauh hari melalui aktifitas ibadah mahdah yang setiap hari kita lakukan, yaitu PERINTAH RAPATKAN DAN LURUSKAN BARISAN SHALAT !!

Nabi bersabda :
“Benar-benarlah kalian dalam meluruskan shaf, atau Allâh akan membuat perselisihan di antara wajah-wajah kalian”. (HR. Bukhari no.717, dan Muslim no.127).

Imam Nawawi rahimahullâh berkata mengenai makna hadits tersebut adalah : "Akan terjadi di antara kalian permusuhan, kebencian, dan pertentangan hati". Perbedaan ketika bershaf dalam shalat merupakan perbedaan zhahir atau yang nampak dan perbedaan zhahir merupakan pengejawantahan dari perbedaan batin, yaitu hati.

Imam al-Qurthubi berkata mengenai makna perselisihan tersebut :
“Perselisihan adalah ketika seorang tidak lurus di dalam shafnya dengan berdiri ke depan atau ke belakang, menunjukkan kesombongan di hatinya yang tidak mau diatur yang demikian itu, akan merusak hati dan bisa menimbulkan perpecahan".

Semoga dengannya, Allah mengangkat derajat kita, menjauhkan perselisihan dan permusuhan di antara kita. Semoga Allah mudahkan kita mengamalkannya. Aamiin…
loading...

Artikel Terkait

Doa Mohon Perlindungan untuk Anak

Anak merupakan karunia serta hibah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua dan sekaligus perhi...

MY ARTIKEL