Inilah Dampak Negatif Media Sosial Dalam Kehidupan Anda

Saat ini bisa dikatakan bahwa media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup. Dengan media sosial, kita bisa terhubung dengan orang-orang lain yang berada di luar sana. Kita bisa saling berbagi informasi bahkan menemukan teman-teman lama. Berbagai media sosial pun bermunculan dan uniknya dapat terhubung satu sama lain antar media sosial. Semua bentuk media sosial pun berlomba-lomba mengembangkan fitur yang ada demi memanjakan para penggunanya.

Secara umum, media sosial memang bermanfaat bagi kehidupan. Namun penggunaan secara berlebihan ternyata dapat memberi pengaruh negatif dalam kehidupan kita. Entah kita sadar atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Tidak melulu harus membahas tentang dampak positif dari media sosial, kita pun juga membahas apa saja dampak negatif yang ditimbulkan jika terlalu sering menggunakan media sosial.

Bermain dengan media sosial memang menyenangkan. Kita bisa tahu apa saja yang dilakukan oleh teman-teman kita, berjumpa kembali dengan kawan lama, mendapat kenalan baru, serta mendapat segudang informasi yang terus dibagikan oleh sesame pengguna. Tapi hal-hal menyenangkan tersebut jadi sayang untuk dilewatkan sehingga kita enggan meninggalkannya. Jadilah kita sangat tergantung dengan media sosial bahkan parahnya bisa sampai kecanduan. Sehari tanpa media sosial seolah terasa lama sekali.

Anak-anak atau remaja yang terlalu sering menggunakan media sosial biasanya akan menurun semangat belajarnya. Beberapa media sosial juga menyediakan game online yang semakin membuat mereka jadi asyik sendiri dengan media sosialnya. Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak dapat hidup tanpa kehadiran manusia lainnya. Sekuat apapun kita tetap saja kita membutuhkan bantuan dari orang lain. Inilah yang kemudian mengharuskan kita untuk saling berinteraksi dengan orang lain. Tapi saat ini, interaksi dengan orang lain justru jadi berkurang akibat terlalu serius dengan media sosial. Waktu istirahat yang seharusnya kita gunakan untuk bercengkrama dengan teman-teman atau keluarga justru habis untuk menjelajah di dunia maya.

Kebebasan dalam bersosial media membuat beberapa penggunanya juga merasa bebas untuk memposting apapun termasuk kata-kata tidak sopan, kata-kata kasar dan sederet kata-kata yang tidak baik. Akhirnya hal seperti ini pun jadi pemandangan lumrah di beranda media sosial. Anak-anak dan remaja pun harus jadi korban karena menganggap bahwa bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa modern khas anak zaman sekarang.

Orang yang kecanduan media sosial kadang susah bersosialisasi dengan orang sekitar. Hal ini terjadi karena kita terlalu sering beraktivitas di media sosial yang notabene adalah dunia maya. Akhirnya kita pun lupa bagaimana cara bersosialisasi di dunia nyata. Kita kerap membagikan foto makanan di media sosial tapi lupa bahwa ada orang-orang di sekitar kita yang butuh makanan tapi kita tidak memberikannya.

Di media sosial kita sering menjumpai orang yang tidak dikenal. Beragam jenis manusia pasti ada dalam daftar teman di media sosial kita. Sayangnya, ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan media sosial sebagai wadah untuk menjalankan aksi kejahatannya. Tak sedikit saudara kita yang terjerat penipuan bahkan penculikan hanya karena bergaul di media sosial.

Di media sosial kita dapat dengan muda mengakses informasi dari siapun. Dengan begitu kita jadi bisa melihat bagaimana keseharian seseorang hanya dengan menjadi stalker. Kita dapat melihat seperti apa gaya berbusana atau di restoran mana ia biasa makan. Akhirnya kita pun juga terpancing untuk ikut melakukan hal yang sama.

Pepatah “media sosial mampu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” sepertinya memang benar adanya. Kadang kita terlalu asyik mengobrol di media sosial sehingga akhirnya kita lupa bahwa ada orang di dekat kita. Lucunya, orang di dekat kita juga sibuk bermain dengan media sosialnya. Jadilah kita terlihat seperti orang asing padahal kenyataannya di dunia nyata kita adalah teman. Kita selalu menunduk menatap layar ponsel dan lupa mengangkat kepala walau hanya untuk sekedar melihat apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita.

Media sosial adalah ajang untuk mencari sebuah pengakuan. Dengan mencantumkan identitas asli dan mengunggah foto serta video, orang lain bisa dengan mudah mengenali kita. Tapi hal itu malah akan jadi boomerang bagi kita. Karena apa yang seharusnya hanya boleh diketahui oleh kita justru dapat dilihat oleh banyak orang sehingga kita jadi kehilangan privasi.

Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan fisik, utamanya kesehatan mata. Mata yang terlalu lama menatap layar ponsel maupun computer dapat terkena radiasi yang menyebabkan mata jadi perih. Bahkan pada beberapa kasus dapat mengalami kebutaan akibat kuatanya radiasi ponsel maupun komputer.

Media sosial dapat mengganggu emosi seseorang. Karena media sosial dapat membuat seseorang terjebak dalam dunia maya yang jauh dari kenyataan. Hal ini bisa berakibat pada tidak kuatnya perkembangan emosi karena umpan balik dari dunia maya dapat diatur sendiri sedangkan umpan balik dari dunia nyata tidak dapat diatur sendiri. Maka dari itu, dibutuhkan ketrampilan emosi dan sosial untuk mengatasinya.

Media sosial dipakai oleh seluruh orang-orang di seluruh dunia. Maka dari itu, tidak heran jika kita dapat melihat budaya-budaya asing yang kadang tidak sesuai dengan budaya kita. Budaya asing itupun akhirnya tertanam di memori yang sayangnya lebih kita ingat dari pada budaya sendiri. Alhasil kita pun meniru budaya-budaya tersebut meskipun tidak sesuai dengan budaya kita.

Media sosial yang bebas membuat penggunanya juga bebas mengunggah apapun termasuk gambar atau video porno sekalipun. Hal itu membuat pengguna lainnya juga sering melihat foto atau video tersebut baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Aktivitas yang berlebihan di media sosial kadangkala membuat pasangan kita kesal karena merasa tidak diperhatikan bahkan ada yang cemburu karena timbul rasa curiga. Pasangan kita bisa saja curiga karena menganggap kita telah punya idaman lain. Demikian pula sebaliknya. Tak ayal pertengkaran pun terjadi hanya karena persoalan sepele. Memang tidak semua pasangan bersikap demikian, tapi ada beberapa yang begitu.

Terlalu sering bermain di media sosial membuat performa tubuh jadi menurun. Tubuh jadi cepat lelah dan lemah akibat jarang berolah raga. Selain itu, radiasi dari ponsel atau PC juga dapat membuat mata jadi lelah sehingga penampilan pun terlihat kuyu dan tidak segar.

Kisah Tragis 1 Akibat Media Sosial
Namaku Lely, berjilbab. Ibu rumah tangga dengan satu anak. Umur 26 thn, tapi banyak yang bilang aku masih seperti gadis. Di sela-sela kesibukanku bekerja di konveksi, aku coba buka BB baru pemberian suamiku. Tak lupa ku coba buka akun Facebookku. Kangen rasanya seru-seruan dengan teman-teman SMA dulu. Dari FB, ku mengenal laki-laki. Pemuda yang sukses dengan perdagangan dan pendidikannya.

Awalnya kami cuma saling like status lama kelamaan beralih saling berkirim pesan. Dalam pesan-pesan yang singkat kami pun saling rinci keadaan. Meski dia tahu aku istri dan ibu dari anak 4thn, dia tetap manis menanggapinya. Dari situ, kami teruskan kirim pesan dengan saling berikan pin BB. Kirim foto dan berujung pada janjian adakan pertemuan. Aku benar-benar khilaf dan terbuai suasana. Dia memang lebih ganteng dari suamiku dan tak segan-segan memberikan sepatu, seragam sekolah, seragam olah raga dan tas mahal untuk anakku. Bayangkan untuk membeli barang tsb dia rela merogoh ATM nya. Aku begitu terharu.

Itulah awal pertemuanku. Hari berikut koment-komentny a mulai sedikit genit dan nakal. Dan anehnya aku makin terhibur dengan inbok-inbok nakalnya. Mulailah setan merayapiku. Aku tak segan-segan memberi foto telanjang dada permintaannya. Malam-malam yang ada penuh bunga-bunga bangkai bertebaran. Invite BB, FB dan mention twitter begitu berani, vulgar dan menantang birahi. Aku gak menyangka, meski sudah beranak satu tapi masih ada perjaka yang menyukai.

Belum lagi, di profilnya dia merupakan mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di jogjakarta. Minggu itu, di pertemuan kedua, kami sudah langsung cek in hotel di kotaku Jakarta. Sebulan dia di jakarta membuat kami sering adakan pertemuan hingga sampai pertemuan ke delapan. 3 bulan berlalu, aku mulai hamil. Aku merasa biasa saja. Tapi kedua orang tuaku bingung dan mempermasalahka n. Pasalnya, sudah setahun suamiku kerja di pengeboran lepas pantai luar jawa. Dan sudah barang tentu tak pernah setahun ini menyentuhku.

Aku tetap bilang pada mereka, bahwa ini adalah janin suamiku. Tapi kedua orang tuaku tetap menuduhku melakukan serong. Akhirnya, suamiku pun dituntut pulang. Tanpa basa-basi, suamiku pun cek BB dan FB ku. Aku demikian bingung dan panik. Masih ada pesan-pesan nakal ku di situ. Aku menangis sejadi-jadinya. Menyembah-nyembah, bertekuk lutut di hadapan suami dan kedua orang tua kandungku. “Menantuku, cepat ceraikan dia, biarlah aku kehilangan anak gadis dari pada kehilangan menantu dan cucu sebaik kamu.” kata ibuku “Dan kamu..!” ibu menudingku dengan mata berair. “Pergilah kemana kau mau, sekarang juga. Dan jangan pernah kau tampakkan wajah menjijikkanmu di hadapanku dan keluargaku.”

Aku keluar rumah dengan tangisan anakku. Bahkan untuk memelukpun aku tak diizinkan. Ku coba minta pertanggung jawaban dari lelaki itu, namun BB FB nya sudah tak aktif lagi. Ku beranikan diri datang ke jogja kampus dimana dia kuliah. Di KABAG kemahasiswaan, ternyata tak menemukan nama yang ku maksud. Aku tunjukkan foto wajahnya, dan ternyata tiada ditemui wajah yang seperti itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Kandunganku sudah hampir 6 bulan. Uang saku pun menipis. Tak tahu kemana arah diuntung. Tak tahu Kemana nasib akan menuntun.

BB dan FB benar-benar memporak porandakan rumah tanggaku. Ibu-ibu, bapak-bapak dan sahabat semua, gunakan BB dan FB sesuai kebutuhan dan kemanfaatan, bila anda tak ada manfaaatnya demi keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga anda, maka tinggalkan FB, chating dan invite BB.

Kisah Tragis 2 Akibat Media Sosial
Kisah perempuan saudi yang memajang foto suaminya di whatsapp. Perempuan ini baru saja menikah dan memajang foto suaminya di wa. Ketika pulang dari bulan madu, suaminya berubah sikap dari yg awalnya mencintai istrinya menjadi suami yg sering pergi dan cuek sama istrinya.

Hal ini berlangsung sampai 5 bulan ketika ditanya oleh istrinya ternyata dalam pandangan suaminya istrinya adalah perempuan yg jelek padahal aslinya istrinya cantik. Akhirnya istrinya mengadu pada mertuanya dan dibawalah suaminya ke seorang syaikh. Disitu ketahuan bahwa suaminya terkena sihir dan yang menyihir adalah teman istrinya. Pada akhir kisah perempuan itu mengingatkan siapa saja untuk mengambil ibrah pengalamannya, jangan memajang foto orang-orang yang kita cintai pada media sosial apa pun.

Subhanallah betapa banyak, terutama zaman sekarang, orang yang senang mempertontonkan kecantikan (wajah dan tubuh), kelucuan (anak-anak kecil), kepintaran anak-anaknya di media-media sosial, sementara dia tidak tau siapa saja yg melihat foto atau video anak-anaknya nya itu dan juga tidak tau apa yang ada dalam hati-hati mereka. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan 'ain dan orang yang hasad. Demikianlah beberapa pengaruh negatif media sosial dalam kehidupan. Gunakanlah media sosial secara bijak. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait