Pemahaman Golongan Umat Yang Dijamin Masuk Surga

Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT kita sebagai khalifah di muka bumi ini harus perlu diketahui bahwa pemahaman golongan umat yang dijamin masuk surga berdasarkan hadist Nabi Muhammad sebagai berikut “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan (71 Golongan); dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan (72 Golongan); sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan (73 Golongan), semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah ?; Beliau menjawab : yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini”[HR. Tirmidzi]. Adapun istilah orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini disebut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Syi'ah, Khawarij, Jahmiyah, dan Qodariyah.

Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan 2 indikator umum :
  1. Ahlus Sunnah berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, berbeda dengan golongan lain yang beragama dengan berdasar pada akal, perasaan, hawa nafsu, taqlid buta atau ikut-ikutan saja.
  2. Ahlus Sunnah mencintai Al Jama’ah, yaitu persatuan ummat di atas kebenaran serta membenci perpecahan dan semangat kekelompokan (hizbiyyah). Berbeda dengan golongan lain yang gemar berkelompok-kelompok, membawa bendera-bendera hizbiyyah dan bangga dengan label-label kelompoknya.
Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah Ahlus Sunnah itu ?
Ia menjawab : Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).

Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Syi’ah, Khawarij, Jahmiyah, dan Qodariyah juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah.

Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah :
  1. Beriman kepada takdir Allah,
  2. Beriman bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah), bukan makhluk dan bukan perkataan makhluk,
  3. Beriman tentang adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat, yang akan menimbang amal manusia,
  4. Beriman bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan berbicara dengan hamba-Nya di hari Kiamat,
  5. Beriman tentang adanya adzab kubur dan adanya pertanyaan malaikat di dalam kubur,
  6. Beriman tentang adanya syafa’at Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bagi ummat beliau,
  7. Beriman bahwa Dajjal akan muncul,
  8. Beriman bahwa iman seseorang itu tidak hanya keyakinan namun juga mencakup perkataan dan perbuatan, dan iman bisa naik dan turun,
  9. Beriman bahwa orang yang meninggalkan shalat dapat terjerumus dalam kekufuran,
  10. Patuh dan taat pada penguasa yang muslim, baik shalih mau fajir (banyak bermaksiat). Selama ia masih menjalankan shalat dan kepatuhan hanya pada hal yang tidak melanggar syariat saja,
  11. Tidak memberontak kepada penguasa muslim,
  12. Beriman bahwa tidak boleh menetapkan seorang muslim pasti masuk surga atau pasti masuk neraka,
  13. Beriman bahwa seorang muslim yang mati dalam keadaan melakukan dosa tetap disholatkan, baik dosanya kecil atau besar.
Kita Sebagai Umat Muslim Jangan Salah Membatasi
Imam Al Barbahari berkata : ”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam. (Lihat Syarhus Sunnah, no 2). Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.

TELAH KELIRU ORANG YANG MEMBATASI AHLUS SUNNAH DENGAN SUATU KELOMPOK ATAU ORGANISASI TERTENTU, seperti perkataan : ’Ahlus Sunnah adalah NU’ atau ’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’.

TELAH SALAH ORANG YANG MEMBATASI AHLU SUNNAH DENGAN MAJLIS TA'LIM ATAU USTADZ TERTENTU, dengan berkata : ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’.

KELIRU PULA ORANG YANG MEMBATASI AHLU SUNNAH DENGAN PENAMPILAN TERTENTU, misalnya dengan berkata : ’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung/cingkrang (celana diatas mata kaki) dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’.

TIDAK BENAR PULA MEMBATASI AHLU SUNNAH DENGAN FIQIH, misalnya dengan berkata : ’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’.

Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat, sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya. Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, SERTA BENCI DENGAN SEMANGAT KEKELOMPOKKAN.

Kita Sebagai Umat Muslim Seharusnya
Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah :
”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah”. (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. [QS. An Najm : 30].

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat.
loading...

Artikel Terkait

Doa Mohon Perlindungan untuk Anak

Anak merupakan karunia serta hibah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penyejuk pandangan mata, kebanggaan orang tua dan sekaligus perhi...

MY ARTIKEL