Mengerikan!! Ternyata ini Bahaya Suka Marah

Marah yang bisa menyebabkan akibat tidak baik tentu adalah marah yang berlebihan. Marah yang berlebih tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain. Efek marah bahkan bisa langsung berdampak pada tubuh kita sendiri baik dampak dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Marah berlebih juga bisa menimbulkan berbagai macam penyakit yang tentu akan sangat merugikan. Penyakit bukan cuma timbul gara-gara makanan saja, tetapi juga perilaku kita. Jika mudah dan suka marah-marah, ternyata ada bahayanya bagi kesehatan maupun lingkungan kita. Apa saja? 

Gangguan pencernaan
Saat marah, kadar asam lambung bisa meningkat. Dari situ, berbagai gangguan pencernaan pun muncul. Mulai dari refluks asam, maag, atau sembelit.

Sakit kepala
Orang yang suka marah-marah biasanya sering mengeluh sakit kepala. Sebab terlalu emosional meningkatkan tekanan darah di kepala. Pantas jika marah-marah memicu pusing atau migrain.

Penyakit jantung
Mudah marah menimbulkan stres. Stres tersebut pun meningkatkan risiko penyakit jantung. Bahkan penelitian sudah membuktikan kalau orang yang mudah marah cenderung terkena serangan jantung.

Depresi
Seperti yang sudah disebutkan, mudah marah berkaitan dengan stres. Ketika pikiran sudah terserang oleh stres dan depresi, tubuh pun rentan terkena berbagai macam penyakit.

Tekanan darah tinggi
Jangan suka marah-marah jika tak ingin terkena tekanan darah tinggi. Tubuh perlu menjaga tekanan darah dalam kondisi normal agar tidak memicu masalah kesehatan lainnya.

Serangan cemas
Jika orang mudah marah, biasanya mereka juga rentan terhadap perasaan cemas akan hal-hal sepele. Segala sesuatu dibesar-besarkan. Serangan cemas pun akhirnya mengganggu aktivitas harian.

Sering sakit
Karena sistem imun menurun akibat mudah marah, berbagai macam penyakit akhirnya sering mampir. Misalnya sering demam, flu, atau batuk. Itulah bahaya suka marah-marah bagi kesehatan. Mulai sekarang, coba belajar mengontrol emosi demi menjaga kesehatan tubuh dan pikiran.

Kehilangan kendali diri
Pasti, mereka yang sudah sepenuhnya dikuasai oleh amarah tak jarang akan kehilangan kontrol atas diri sendiri sehingga tidak bisa berpikir jernih dan tidak mampu membedakan mana perbuatan yang baik mana yang buruk.

Merugikan diri sendiri
Baiknya, marah itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta tidak melenceng dari apa yang diperintahkan oleh Allah da Rasul-Nya. Jangan biarkan amarah menguasai kita, tetapi kita yang harus menguasai (mengendalikan) amarah tersebut. Sebab, marah yang berlebihan justru datangnya bukan karena kebaikan melainkan oleh hasutan setan dan iblis sehingga bisa berujung pada dosa.

Lagi pula, marah yang tidak perlu hanya akan menjadikan masalah kecil menjadi besar yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan penyesalan. Marah yang tidak terkontrol akan menimbulkan perasaan benci yang menjadi akar daripada rasa dendam hingga akhirnya muncul keinginan untuk membalas dendam. Akhirnya, amarah hanya akan menjerumuskan kita pada hal-hal yang merugikan semacam pertengkaran dan permusuhan, bahkan perang.

Dapat menodai agama
Seseorang yang sedang dikuasai amarah tak jarang bertindak sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan karena akal sehatnya tidak berjalan dengan benar. Bahkan jika sudah sepenuhnya dikuasai oleh marah, maka ia bisa melakukan apa saja yang padahal tidak benar oleh Allah dan Rasul sehingga justru melakukan tindakan yang melenceng, hanya melakukan apa saja yang ia anggap benar demi menumpahkan seluruh amarah yang ada.

Terjerumus pada maksiat
Marah yang tidak terkontrol dengan baik membuat seseorang mudah melakukan tindakan yang melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Ditambah dengan hasutan daripada setan dan iblis, jadilah seseorang yang pemarah menjadi mudah diajak pada perbuatan maksiat yang merugikan.

Adzab Allah menunggu
Seseorang yang tidak bisa mengontrol amarahnya dengan baik, menjadikan dirinya mudah terjerumus pada hal-hal yang tidak baik dan merugikan baik diri sendiri maupun orang lain. Titik akhir daripada perbuatan marah yang merugikan dan berujung dosa itu tak lain adalah balasan daripada Allah SWT berupa adzab.

Orang yang pemarah atau yang cenderung tidak bisa mengontrol emosi, seringkali merugikan orang lain maupun lingkungan disekitarnya. Oleh karena tidak bisa mengontrol marah, maka bisa melakukan tindakan yang merugikan seperti merusak benda-benda di sekitarnya bahkan menyakiti atau melukai orang terdekat.

Hal ini menyebabkan seorang yang pemarah tidak akan disukai dan justru dijauhi karena sifatnya yang kasar tersebut. Akibatnya, seseorang bisa kehilangan kepercayaan, pekerjaan, jabatan, bahkan teman, dan menimbulkan permusuhan.

Cara Mengendalikan Amarah
Tanamkan dalam diri bahwa jangan pernah marah kecuali karena Allah SWT. Maksunya, marahlah pada sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Marah untuk hal-hal yang berdasarkan kebaikan saja. Usahakan untuk bersikap lembut, namun jangan sampai mengarah pada tafrith karena justru bisa berujung menjadi ketidakpedulian atau kelalaian.

Perbanyak berdzikir kepada Allah SWT.
Berusaha menahan amarah yang tidak perlu. Allah SWT berfirman yang artinya; ”Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q. S. Ali Imran ayat 134).

Berdiam diri. 
Jika memang tidak akan sanggup untuk menahan amarah dan ditakutkan jika bersuara atau bertindak hanya akan membuat keadaan semakin buruk atau justru akan merusak agama, lebih baik memilih untuk diam saja. Rasulullah SAW bersabda; “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (H. R. Ahmad).

Mengubah posisi. 
Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (H. R. Ahmad).

Pergi mengambil wudhu atau mandi.
Bersabar dan lebih baik untuk memberi maaf. Allah SWT bersabda yang artinya; “Dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (Q. S. Asy-Syuura ayat 37).

Alkisah Terkait Sifat Pemarah
hiduplah seorang anak muda yang pemarah. Masalah kecil saja dapat menimbulkan amaranhnya sampai meledak-ledak. Hingga pada suatu ketika, anak muda ini ingin sekali berhenti dari sifat pemarahnyadan menjadi seorang yang sabar. Lalu, datnglah ia kepada seorang ustaz guna mengutarakan keinginannya itu.

Kemudian,, jawab ustaz, “alhamdulillah, baiklah! Begini saja, siapkan olehmu sebuah papan yang lebar di halaman rumahmu. Ingat, setiap kali kamu mara, tancapkan sebuah paku di sana. Dan setelah amarahmu mereda, cabutlah paku tersebut. Lakukanlah ini selama satu bulan, setelah itu datanglah lagi kemari.

Anak muda ini sangat berterima kasih kepada sang ustaz atas petunjuknya. Setibanya di rumahnya, ia langsung melaksanakan pesan sang ustas. Disiapkan olehnya sebuah papan yang lebar di halam rumahnya, dan setiap kali ia marah, ditancapkanlah sebuah paku di papan itu. Namun, setelah amarahnya reda, paku itu dicabutnya. Selang sebulan kemudian, dia kembali meneumui sang ustaz untuk menerima petunjuk berikutnya.

Katanya, “Wahai ustaz, sebulan sudah saya melaksanakan perintahmu. Bagaimana sekarang?” Jawab ustaz, “Anakku, ilmu apa yang telah kau peroleh dari paku-paku tersebut?” Anak muda ini menggelengkan kepalanya. Lalu, kata sang ustaz, “Anakku, anggaplah papan yang lebar itu sebagai hati seseorang dan paku itu adalah amarahmu. Setiap kali kau marah, paku itu kau tancapkan di papan.

Setelah amarahmu reda, lalu kaun cabut kembali paku itu. Ketahuilah, sesungguhnya begitulah akibat dari marah. Setelah amarahmu reda, engkau mencabut kembali paku itu. Namun, bagaimanapun juga, engkau telah meninggalkan luka di hati orang tersebut.”

Mendengar penjelasan gurunya, anak muda ini hanya terdiam. Ia kini menyadari betapa dahsyatnya akibat yang ditimbulkan oleh amarah. Dalam hati ia berjanji untuk tidak lagi menguumbar amarah dan menjadi orang yang sabar.

Hikmah cerita:
Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah saw. Mengibaratkan amarah itu seperti api yang bergejolak di dalam hati. Coba saja diperhatikan raut wajah orang marah. Matanya melotot dan memerah, urat-uratnya menonjol, dan wajahnya tertekuk seram, serta keluar dari mulutnya kata-kata yang kasar dan cacian. Pendeknya, tidak ada yang bagus sama sekali yang dapat dilihat dari orang yag sedang marah. Orang yang pemarah pun umumnya selalu dijauhi dan tidak disukai.

Rasulullah saw. Adalah contoh baik bagi yang ingin belajar sabar. Terhadap cacian, beliau mendoakan orang yang mencacinya. Tercatat dalam sejarah, beliau hanya marah satu kali saja. Itu pun marah yang menjadi solusi. Ketika membagi-bagi hasil rampasan perang ada beberapa pihak yang tidak puas. Maka beliau berkata , “Jika Allah dan Rasulnya sudah kalian anggap tidak adil, maka siapa lagi yang adil?”

Begitulah kemarahan Rasulullah saw yang membungkam beberapa pihak yang meragukan keadilan Allah. Kalaupun harus mencela, beliau hanya berkata, “Semoga dahimu berlumuran debu dan tanah.”

Tidak ada gunanya mengumbar amarah karena hanya akan membuat setan tertawa senang. Kemarahan itu bersifat menghancurkan, baik menghancukan hati, menghancurkan keakraban, kedamaian, kegembiraan, maupun tali silaturahmi. Seperti yang telah digambrkan dalam cerita di atas, kemarahan itu tetap akan membekas di hati orang yang dimarahi. Walaupun keduanya sudah saling meminta maaf dan memaafkan. Oleh karena itu, masih maukah menjadi seorang pemarah?

Artikel Terkait

loading...