Inilah Penyakit Berbahaya Yang Disebabkan Oleh Pandangan Mata

Pada hakekatnya penyakit ini adalah kekuasaan Allah untuk mengingatkan hambanya, bahwa ketika memuji sesuatu hal, kembalikan pujian tersebut kepada Allah. Karena Dialah yang telah memberikan keutamaan atau keindahan atau kecantikan atau hal-hal lainnya yang membuat kita kagum.


Penyakit ini biasa disebut dengan 'ain atau secara mudahnya adalah penyakit atau sakit yang disebabkan karena pandangan mata seseorang, bisa karena pandangan mata yang jahat atau bisa juga karena pandangan mata takjub atau karena kagum.

Secara harfiah, penyakit ‘Ain
itu diambil dari kata ‘ana-Ya’inu (bahasa Arab) artinya apabila ia menatapnya dengan matanya. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, kemudian diikuti oleh jiwanya yang keji, kemudian menggunakan tatapan matanya itu untuk menyampaikan racun jiwanya kepada orang yang dipandangnya. Sehingga, apa yang dilihat oleh hati yang hasad dapat membahayakan orang lain.

Penyakit ‘Ain bukanlah penyakit medis, tetapi dapat mengganggu kesehatan orang yang terkena ‘Ain. Yang paling rentan terkena penyakit ‘Ain adalah anak – anak dan balita, karena mereka masih lemah dan belum bisa membentengi dirinya sendiri dari pengaruh jahat di sekitarnya. Tidak menutup kemungkinan, akan menimpa orang dewasa, ibu hamil, hewan, bahkan harta benda.

Penyakit jenis 'ain ini bisa menimpa siapa saja seluruh makhluk hidup di bumi baik itu mulai dari anak-anak, orang tua, binatang, tumbuhan atau benda mati lainnya. penyakit 'ain ini juga tidak harus disebabkan karena faktor kesengajaan.

Berikut beberapa kisah nyata yang sering terjadi dalam kehidupan kita, semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran buat kita semua, berikut kisahnya :

Kisah Pertama
Sudah mandi....segeeerrr...pakai baju....baju yang mana yaa...yang kuning...oke deh...siiipp dah beres....sekarang pake bedak jangan lupa....
Sambil ngliatin...ganteng banget anakku...ngebatin.
Bunda, aku main depan rumah yaa...
Belum ada 5 menit...terdengar suara nangis kenceng banget.
Anakku datang dengan 'berdarah-darah'....
Ternyata dagu anakku yang 'bocor'. Keluar main mobil-mobilan di teras.... dinaikin mobilan kecilnya..........srossooot....nabrak tembok. Jatuh nyungsep di ubin.

Menurut kalian Dimana letak kesalahan si ibu ? Berdasarkan kisah di atas

Kisah Kedua
Pukul 09.30 terjadi percakapan via telp 2 orang ibu rumah tangga
A : Duh, anakku giginya rusak nih...karies
B : Si kakak, umurnya sekarang 11 tahun, giginya bagus beneran. Caaaaakep banget. Secara dulu sampai dia usia 2 tahun, tidak kenal jajanan coklat or permen,,,dah gitu ngga ngedot lagi. Sampai sekarang giginya ngga ada yang bolong satupun. Mana bersih lagi.

Pukul 12.30
Si kakak pulang sekolah
Bunda......gigiku patah...
Patah....coba lihat....ko bisa...
Ngebatin....ya ampun mana gigi depan atas, patahnya ngga tanggung2 lagi....3/4 bagian gigi.
Patahannya mana ?
Ngga tau....mang bisa dilem lagi bunda ?
Bunda juga ngga tau,,,,ya udah nanti tanya dokter gigi. Sekarang bagaimana jalan ceritanya tuh gigi ko bisa patah ?
Tadi waktu jam istirahat, aku kan lagi main karet bund, aku bagian lompat. Nah pas tingginya sepundak, aku lompat...aku jatuh bund....tapi jatuhnya mukaku duluan....eeehh gigiku patah.
Innalillah....sakit banget ya....
Iya bunda....Makanya, aku ngga sempet cari patahan giginya...
Iya udah ngga papa, nanti bisa dipasang gigi yang baru yaa...

Menurut kalian Dimana letak kesalahan si Bunda ? Berdasarkan kisah di atas

Kisah Ketiga
Menantu : Paketan bajunya sudah sampai ya Nek...
Nenek : Gimana, muat ngga ?
Menantu : Paaaass banget, mana bagus banget Nek,,,tuh lagi dipakai, anaknya lagi duduk di teras sambil liat anak-anak lain main Nek,,,, udah kayak bidadari dia pake baju itu.
Nenek : Nanti kalo ke rumah nenek pakai baju itu, nenek mau lihat.

Malamnya....
Menantu : Nek...cucu nenek masuk ruang ICU
Nenek : Masuk ICU ? Ko bisa ?
Menantu : Ngga tau Nek....tiba2 dia kejang berulang kali.
Nenek : Apa kata dokter
Menantu : Diagnosa awal dokter mengarah ke meningitis Nek....doakan ya Nek...
Nenek : Iya pasti

Paginya.....
Menantu : Nek....cucu nenek tidak tertolong...
Nenek : Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun.

Menurut kalian apa kesalahan si Menantu ? Berdasarkan kisah di atas

Kisah Keempat
Ibu A : “Ini loh, anak saya belum genap dua tahun paling pintar diantara teman – teman sebayanya. Sudah bisa lari – lari, udah pinter ngomong, makannya lahap, makanya badannya montok. Duh, senengnya…”

Ibu B : “Baguslah, iya Si A emang pinter ya? Anak saya malah baru bisa jalan lebih dari 15 bulan. Makannya juga susah banget nih…”

Malamnya, si A rewel tidak seperti biasanya. Tidak mau menyusu. Kejadian itu berlangsung terus menerus hingga beberapa bulan lamanya. Tibalah waktunya si A disapih, namun dia masih enggan makan. Sepanjang malam rewel tanpa sebab, sehingga membuat badannya kurus kering. Sering sakit dan tidak lincah seperti sebelumnya. Setelah periksa ke DSA (Dokter Spesialis Anak), sang Dokter pun mengatakan tidak ada indikasi medis apapun.

Menurut kalian apa kesalahan hingga bisa terjadi seperti itu ? Berdasarkan kisah di atas

Kesimpulan
Berdasarkan 4 kisah tersebut kesalahan mereka adalah ketika mengagumi sesuatu tidak mengucapkan مَا شَآءَ اللهُ Artinya: “Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.” Atau mengucapkan Baarokalloh. Sehingga timbullah pengaruh yang biasa disebut dengan penyakit 'ain.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العين حقُُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya ‘ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Karena ini bisa menjadikan anda termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a'lam.

Artikel Terkait

loading...