Berbanggalah Orang Muna Yang Namanya Berawalan LA dan WA

Pada artikel kali ini saya akan sedikit membahas tentang komunitas SUKU MUNA, suatu suku yang tinggal dan hidup di kepulauan sulawesi tenggara. Suku ini jarang sekali di kenal oleh banyak kalangan karena dahulu kala pulau muna ini dianggap bergabung dengan pulau buton berdasarkan perjanjian Korte Verklaring tanggal 2 Agustus 1918 dimana raja Muna mendapat tekanan dari Belanda untuk menerima perjanjian-perjanjian yang dibuat Sultan Buton dan Belanda, dan perjanjian terakhir yang dibuat yaitu, Korte Verklaring tanggal 2 Agustus 1918, namun raja Muna saat itu tetap menolak dan tidak mau tunduk dengan Belanda, meskipun sebagian besar kerajaan di Indonesia saat itu sudah harus tunduk pada Belanda. Selengkapnya baca disini terkait sejarah kerajaan muna.


Hal inilah yang menyebabkan pulau muna dan penduduknya kurang di kenal, yang kebanyakan orang tahu adalah pulau dan suku buton, namun pada hakikatnya pulau MUNA dan BUTON adalah dua pulau dan kerajaan yang berbeda, namun ada beberapa hal persamaan dalam pemberian nama dengan penggunaan awalan LA, LAODE, dan LA ODHE bagi laki laki, dan WA, WAODE, serta WA ODHE bagi perempuan pada nama seseorang. 

Pemberian awalan nama pada masyarakat muna tersebut bukanlah sesuatu yang tanpa arti, namun awalan-awalan nama tersebut berasal dari dua kalimat syahadat yaitu ashadu an La ilaha ilallah Wa ashadu anna muhamaddarrasulullah. Artinya: Aku bersaksi, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya (utusan-Nya).

Dengan Arti Pemaknaannya sebagai simbol penegakkan syariat islam adalah sebagai berikut:
  1. Pengakuan terhadap keesaan Allah SWT diinterpretasikan sifatnya sebagai wujud seorang laki-laki (LA) dalam kedudukannya sebagai pemimpin. Itulah sebab seorang laki-laki/pria suku Muna dituntut dan harus mampu menjadi seorang pemimpin dimanapun ia berada.
  2. Pengakuan terhadap Rasulullah Muhammad SAW diinterpretaskan sifatnya sebagai wujud perempuan (WA) dalam kedudukannya sebagai terpimpin.
Bagi suku muna penggunaan awalan LA, LAODE, LA ODHE, WA, WAODE, dan WA ODHE adalah sebagai berikut:
  1. LA: untuk laki-laki kalangan MARADIKA (masyarakat umum)
  2. LAODE: untuk laki-laki kalangan KOLAKI (masyarakat ningrat)
  3. LA ODHE : untuk laki-laki kalangan KOLAKI (masyarakat ningrat)
  4. WA : untuk perempuan kalangan MARADIKA (masyarakat umum)
  5. WAODE : untuk perempuan kalangan KOLAKI (masyarakat ningrat)
  6. WA ODHE : untuk perempuan kalangan KOLAKI (masyarakat ningrat)
Walaupun kegunaan LAODE dan LA ODHE sama-sama untuk laki-laki, namun tingkat keningratan LAODE lebih tinggi di banding LA ODHE karena keberadaan LAODE lebih awal di banding LA ODHE. Adapun pewarisan tingkatan derajat sosial pada suku muna di lakukan dengan cara sebagai berikut:
  1. Bila seorang laki-laki KOLAKI (LAODE, LA ODHE) menikah dengan seorang perempuan KOLAKI (WAODE, WA ODHE), maka semua keturunannya adalah KOLAKI.
  2. Bila seorang laki-laki KOLAKI (LAODE, LA ODHE) menikah dengan seorang perempuan MARADIKA (WA) maka semua keturunanya adalah KOLAKI
  3. Bila seorang laki-laki MARADIKA (LA) menikah dengan seorang perempuan KOLAKI (WAODE, WA ODHE), maka semua keturunannya adalah MARADIKA
  4. Bila seorang laki-laki MARADIKA (LA) menikah dengan seorang perempuan MARADIKA (WA), maka semua keturunannya adalah MARADIKA.
Maka kesimpulanya adalah semua keturunan masyarakat muna hanya mewarisi tingkatan derajat sosial ayah/bapaknya. Adapun pemaknaan kata La dan Wa ini dapat dipahami lebih bijak sekaligus semakin mempererat kebersamaan yang utuh sebagai masyarakat suku Muna dalam lingkungan sosial yang heterogen. Marilah kita menghargai budaya kita dengan tetap merasa bangga menjadi orang Muna yang tetap menggunakan nama depan La dan Wa.

Salah satu sifat masyarakat Muna yang patut untuk dibanggakan juga adalah dimanapun masyarakat Muna ini berada, mereka selalu menjaga adat istiadat dan budaya mereka, bagi suku Muna ADJATI (adat istiadat) adalah sesuatu yang harus di junjung tinggi, bila mana seseorang melanggar adat dan norma-norma yang berlaku maka orang tersebut akan di kena sumpah leluhur dan KUTUKAN dari KABARAKATINO WITENO WUNA (Keberkahan Tanah Muna) yang berupa LAINTOBHE (pendek umur) atau BALAA (musibah) karena menurut komunitas suku Muna, WITENO WUNA (Tanah Muna) adalah tanah yang penuh berkat.

Di samping keberkahan yang di berikan oleh ALLAH SWT terhadap tanah muna, menurut para leluhur dan tokoh-tokoh agama di pulau Muna, pulau MUNA adalah pulau PELENGKAP TUBUH MANUSIA, yang mana MEKAH sebagai kepala manusia, MADINAH sebagi badan manusia, BUTON sebagai pusar manusia, dan PULAU MUNA sendiri sebagai KAKI manusia. Selain itu, pulau MUNA dikenal juga sebagai pulau hakikat oleh masyarakat yang ada di daerah-daerah sekitarnya, seperti BUTON, MAKASAR, dan masyarakat yang ada di pulau-pulau lainya yang ada di kepulauan sulawesi, menurut mereka yang menilai hal tersebut, hal itu di sebabkan oleh ilmu orang orang tua masyarakat suku muna, yang mana ilmu yang mereka miliki adalah rata-rata ilmu tingkat HAKIKAT dan MA’RIFATULLAH, sehingga tidak heran bagi orang orang tua masyarakat muna, perkataan mereka adalah sesuatu yang menjadi nyata (terbukti), oleh sebab itu di mana pun mereka berada, masyarakat muna selalu saling menasehati bila melakukan kesalahan, berbagi ilmu agama dan ilmu lainnya serta selalu mencari dan menggali tingkatan ilmu agama islam yakni syariat, tariqat, hakikat dan ma’rifatullah agar budaya mereka tetap terjaga dan juga sebagai bentuk peribadatan mereka terhadap ALLAH SWT.

Semoga apa yang ada ini menjadi pembuka hati kita untuk lebih tahu akan jati diri kita sebagai masyarakat suku Muna, silahkan ambil makna tersirat dan tersurat sehingga kita dapatkan makna dan pesan dari para leluhur kita, karena pada dasarnya orang baik dan ahli surga itu didasarkan pada ilmu dan amal mereka dan bukan dari nama yang mereka sandang?

Artikel Terkait