Pelajaran Berharga Dari Seekor Burung

Allah memerintahkan kita untuk "membaca" alam semesta yang terhampar luas ini agar kita memetik hikmah, pelajaran, serta menguatkan keimanan kita pada-Nya. Apa yang setiap hari kita saksikan di lingkungan sekitar kita, bisa menjadi objek pembelajaran agar kita menjadi lebih bijaksana. Dari sekian banyak makhluk ciptaan-Nya, burung merupakan salah satu hewan yang menyimpan banyak hal untuk kita pelajari.

Dunia dan seisinya sangat luas, tentu bukan tanpa maksud Allah menciptakan segala sesuatu. Semua yang ada di alam ini diberikan Allah sebagai bahan pembelajaran untuk umat manusia. Jika Anda mampu meresapi, banyak sekali pelajaran yang bisa Anda ambil dari lingkungan sekitar Anda. Salah satunya yang mudah Anda jumpai adalah burung. Berikut ini beberapa hal yang bisa dipelajari dari seekor burung:

1. Bagaimana burung lahir
Manusia tak ubahnya seperti burung yang lahir dengan berbagai bentuk dan ukuran, lahir dengan membawa keunikan masing-masing, kekuatan, dan tentu juga kelemahan. Berterima kasihlah kepada Allah, karena tidak ada manusia yang sama di muka bumi ini, betapa membosankannya jika manusia lahir tanpa perbedaan.

2. Mengapa burung bermigrasi
Dalam masa tertentu, kawanan burung akan terbang ke tempat lain, disebabkan berbagai faktor misalnya cuaca semakin buruk dan makanan semakin sulit ditemukan. Mereka akan pergi mencari tempat yang lebih baik untuk bertahan hidup. Jadilah orang yang flexibel dan berani membuat perubahan ketika apa yang Anda lakukan tidak berhasil seperti seharusnya.

3. Mengapa burung terbang dalam kawanan yang besar
Burung terbang bersama kawanannya dan beriringan hingga sampai tujuan. Cara seperti ini membantu mereka menghindari predator dan juga menghemat energi. Sama halnya dengan manusia, melakukan pekerjaan dengan tim yang harmonis lebih efektif, namun ketika seseorang memilih untuk bekerja sendirian, dia cenderung mudah dikalahkan.

4. Menjaga keseimbangan
Burung mampu menjaga keseimbangan mereka ketika ada tiupan angin yang tak bersahabat, bahkan mereka juga bisa berdiri hanya dengan satu kaki. Hidup ini penuh dengan momen yang mungkin akan membuat Anda merasa tertekan, namun ketika secara mental dan fisik sama-sama seimbang, hidup masih mudah untuk dijalani.

5. Burung tidak peduli ketika ada yang melihatnya
Anda tentunya pernah menyaksikan banyak burung yang bertengger maupun beterbangan ke sana kemari tanpa merisaukan siapa yang melihatnya, mereka melakukan apa yang mereka butuhkan. Pelajari ini, kurangi rasa khawatir Anda terhadap apa yang dipikirkan orang lain tentang Anda. Jangan pernah melakukan apa yang orang lain katakan benar, padahal hati Anda menolaknya. Setiap orang memiliki urusan masing-masing.

6. Burung memiliki sarang yang dibuatnya sendiri
Burung membangun sarangnya sendiri, tempat yang akan menjadi rumahnya dan tempat pulang ketika matahari tak bersinar lagi. Anda pun demikian, butuh tempat untuk pulang, butuh tempat untuk bersandar. Bukan bangunan yang harus Anda pahat dari sekarang, namun ruang kedamaian yang harus Anda miliki, ketika suatu saat Anda merasa lelah, peluk diri Anda sendiri dan ajaklah jiwa Anda untuk beristirahat sejenak.

7. Burung mengepakkan sayap kemudian melebarkannya untuk terbang tinggi
Lihatlah bagaimana seekor burung mulai mengepakkan sayapnya untuk terbang, kemudian suatu ketika semakin melebarkan sayapnya ketika mencapai ketinggian. Anda sering kali membatasi diri terhadap pandangan hidup atau potensi Anda, bahkan lebih banyak terbebani oleh tuntutan kehidupan sehari-hari. Ini adalah hidup Anda, nasib tentu saja ada di genggaman Anda. Takut terjatuh itu sudah wajar, tetapi ketika terjatuh Anda akan lebih pandai lagi untuk terbang, karena Anda tahu apa yang membuat Anda terjatuh.

Alkisah Tiga Pelajaran Berharga Dari Seekor Burung
Seorang pemburu memasuki hutan untuk mencari binatang yang bisa dipakai untuk makan keluarganya hari itu. Tetapi tidak seperti biasanya, ia tidak menemukan binatang yang cukup besar, yang bisa mengobati rasa lapar keluarganya. Dalam kebingungannya itu, ia melihat seekor burung dan berhasil menangkapnya. Lumayan untuk pengganjal perut sambil mencari buruan yang lebih besar, begitu mungkin pemikirannya.

Tetapi tanpa disangkanya, tiba-tiba burung itu berbicara layaknya manusia, “Apa yang engkau inginkan dengan menangkapku ini??”

Pemburu itu berkata, “Aku akan menyembelih dan memakanmu!!”

Burung itu berkata, ”Itu tidak akan menyelesaikan masalah, aku tidak akan bisa mengobati rasa laparmu!! Tetapi aku akan memberikan tiga pelajaran berharga kepadamu, pertama saat aku ada di tanganmu (masih di tangkap), kedua saat aku berada di atas pohon, dan ketiga saat aku telah ada di atas bukit.”

Sang pemburu yang memang cukup penasaran dengan adanya burung yang bisa berbicara itu, langsung saja berkata, “Jelaskanlah pelajaran yang pertama!!”

Sang burung berkata, “Janganlah engkau merasa sedih dan menyesal dengan sesuatu yang telah lepas darimu….!!”

Sejenak sang pemburu merenungi ucapannya itu, kemudian berkata, “Apakah pelajaran yang kedua??”

Sang burung berkata, “Lepaskan dulu aku!!”

Si pemburu segera melepaskannya, dan burung itu hinggap di atas dahan, lalu berkata, “Wahai manusia, janganlah engkau meyakini bahwa sesuatu itu ada, padahal hakekatnya tidak ada!!”

Kemudian burung itu terbang lebih jauh dan hinggap di bukit. Tanpa diminta burung itu berkata lagi, “Wahai manusia, andaikata engkau jadi menyembelih diriku, engkau akan menemukan dua intan di paruhku, yang masing-masing beratnya 77,88 gram…!!”

Pemburu itu terkejut mendengar perkataan sang burung, ia sangat sedih dan menyesal, tetapi tidak mungkin ia menangkapnya lagi karena burung itu telah cukup jauh di atas bukit. Tetapi, seperti teringat sesuatu, ia berkata, “Wahai burung, apakah pelajaran ketiga yang engkau janjikan??”

Burung itu tertawa dan berkata, “Wahai manusia, baru saja engkau memperoleh dua pengajaran, dan dalam sesaat ini engkau telah melanggar (melupakan)nya. Mengapa pula engkau bersedih telah melepaskanku? Dan bagaimana mungkin engkau begitu saja mempercayai ada dua butir intan di paruhku? Berat tubuhku tidak sampai 77,88 gram, bagaimana bisa ada dua intan masing-masing beratnya 77,88 gram?”

Sang pemburu tampak termangu-mangu mendengarnya, kemudian sang burung berkata lagi, “Itulah gambaran kehidupan dunia, suka atau tidak, sengaja atau tidak, pada akhirnya engkau harus melepaskannya juga. Begitu juga dengan segala janji keindahan dan kenikmatannya, pada hakekatnya hanya tipuan semata. Karena itu, berupayalah dengan sungguh-sungguh untuk meraih sesuatu yang engkau tidak akan pernah terlepas darinya, dan sesuatu yang kenikmatannya akan selalu engkau rasakan tanpa akhir!!”

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, ingatlah pada burung. Setiap pagi burung terbang dari sarangnya untuk mencari makan. Sebelumnya, ke mana burung akan mencari makan tidak terfikir olehnya. Karena itu pada sore hari burung baru pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan bagi keluarga. Kadang makanan yang di bawanya hanya cukup buat anak-anaknya, sementara ia harus “berpuasa”. Bahkan, si burung sering kali pulang tanpa membawa makanan sehingga ia dan anak-anaknya harus “berpuasa”.

Burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap-apalagi setelah manusia banyak menyerobot lahan untuk kepentingannya sendiri. Namun, kita tidak pernah melihat seekor burung putus asa dan berusaha bunuh diri, kita tidak pernah melihat seekor burung yang tiba-tiba menukik, membenturkan kepalanya ke batu. Kita tidak pernah melihat seekor burung tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat seekor burung memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya.

Burung tetap optimis akan makanan yang dijanjikan Allah. Walau kelaparan, setiap pagi burung tetap berkicau merdu. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup: Suatu waktu berada di atas dan lain waktu berada di bawah, suatu waktu kelebihan dan lain waktu kekurangan, suatu waktu kekenyangan dan lain waktu kelaparan. 

Dibandingkan dengan burung, sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih hebat. Namun, mengapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini sering kali kalah dari burung? Mengapa manusia banyak berputus asa lalu bunuh diri ketika menghadapi kesulitan? Rupanya kita perlu banyak belajar dari burung.

Artikel Terkait