Ternyata Hanya Ini 10 Pesan Allah Kepada Nabi Musa

Musa adalah seorang rasul dan nabi pilihan Allah yang diutus menghadap kepada kaum Fir'aun, serta diutus membebaskan Bani Israel menghadapi penindasan bangsa Mesir. Musa dikenal sebagai perantara dalam hal pengajaran agama dan pengampunan dosa untuk Bani Israel yang biasa dikenal saat ini dengan Yahudi (kaum Nabi Musa). Musa bergelar Kalimullah (seseorang yang berbicara dengan Allah). Musa merupakan figur yang paling sering disebut di Al-Quran, yakni sebanyak 136 kali serta termasuk golongan Ulul Azmi. MasyaAllah

 
Perjanjian Abadi antara Allah dengan Bani Israel
Setelah mengantarkan para pengikutnya menuju Gunung Sinai yang telah dijanjikan sebagai tempat mengadakan Perjanjian antara Allah dengan Bani Israel; Musa terlebih dahulu menghadap kepada Allah supaya mendapat perkenan Allah. Kemudian Allah memerintahkan melalui Musa supaya Bani Israel menguduskan diri serta membersihkan diri selama beberapa hari sebelum mengadakan perjanjian kepada Allah. Pada Hari Perjanjian, terdapat segolongan orang yang masih meragukan kerasulan Musa; golongan tersebut berkata bahwa mereka tak akan beriman kepada Musa sebelum melihat Allah secara nyata.

Kemudian Allah menghadirkan "KemuliaanNya" di atas Gunung Sinai seraya menyampaikan Suara Ilahi diiringi gemuruh petir dan kilat menyambar; Suara Ilahi tersebut berisi berbagai ikrar perintah kepada seluruh Bani Israel. Allah bahkan mengangkat Gunung Sinai diatas kepala seluruh Bani Israel supaya umat itu berikrar teguh untuk berpedoman terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah; dengan harapan Bani Israel senantiasa mengingat segala perintah Allah sehingga mereka membuktikan diri sebagai hamba-hamba yang hanya tunduk kepada Allah. Perjanjian Allah ini tidak hanya berlaku kepada Bani Israel semata melainkan pula kepada seluruh umat manusia yang bersedia berserah diri dan menjadi milik Allah.

Berikut Ini 10 Pesan Allah Kepada Nabi Musa berdasarkan sabda Rasulullah S.A.W : "Allah S.W.T. telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10 perintah : 
  1. Wahai Musa jangan menyekutukan Aku dengan suatu apa pun bahwa aku telah memutuskan bahwa api neraka akan menyambar muka orang-orang musyrikin. 
  2. Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku pelihara kamu dari sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik. 
  3. Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka. 
  4. Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak mensucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku. 
  5. Jangan hasad dengki dan iri hati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku. 
  6. Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka. 
  7. Jangan mencuri dan jangan berzina dengan isteri tetanggamu sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya. 
  8. Jangan menyembelih korban untuk selain dari-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku. 
  9. Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri. 
  10. Jadikan hari Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi : "Sesungguhnya Allah S.W.T menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa a.s. dan Allah S.W.T memilih hari Juma'at sebagai hari raya untukku."
Selain itu Allah juga menobatkan dua belas orang pemimpin dalam Bani Israel. Dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku menyertai kalian, sesungguhnya apabila kalian mendirikan shalat dan kalian menunaikan zakat serta beriman terhadap para RasulKu dan kalian bantu mereka juga kalian pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik; sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosa kalian serta kelak Kuantarkan kalian ke dalam surga-surga yang dibawahnya dialiri sungai-sungai, akan tetapi barangsiapa yang mengingkari perkara ini sungguh orang itu telah menyimpang terhadap Jalan Lurus."

Setelah Perjanjian ini; terdapat sebagian orang dalam Bani Israel atau Yahudi yang memalingkan diri akibat orang-orang tersebut hanya memperhatikan petir maupun kilat yang menyambar pada waktu Perjanjian lalu mereka hendak melihat-lihat ke langit sehingga mengabaikan berbagai perintah Allah. Sementara itu, terdapat sebagian lain dari Bani Israel merasa sangat gentar seraya bersegera menemui Musa; mereka memohon Musa supaya Allah tidak lagi menyampaikan Suara Ilahi secara langsung sebab Suara Ilahi dapat mengguncangkan nyawa hingga meninggalkan tubuh orang tersebut. Permohonan ini dikabulkan sehingga hanya Musa seorang yang dipanggil menemui Allah supaya Musa menerima Al-Kitab yang berisi segala perintah maupun segala ketetapan yang hendak Allah serahkan kepada Bani Israel.

Allah menyerahkan kepada Musa, Al-Kitab berisi penjelasan yang memisahkan kebenaran dan kesalahan; supaya umat Milik Allah harus mengerti kebenaran maupun kesalahan menurut Allah sehingga umat itu tidak memutuskan perkara berdasarkan sekehendak mereka sendiri melainkan berdasar apa yang dikehendaki Allah; sebagaimana Allah yang bersedia mengistimewakan Bani Israel sebagai umatNya dibanding segala bangsa lain di bumi bahkan melampaui semesta alam, demikian pula Bani Israel harus mengistimewakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan satu-satunya Penguasa mereka, serta Bani Israel harus mengutamakan Allah dibanding apapun, agar Bani Israel mengikuti teladan Ibrahim yang benar-benar beriman dan benar-benar bersedia mengorbankan apapun sehingga umat ini layak bergelar sebagai golongan pewaris berkat Ibrahim. Al-Kitab yang diserahkan kepada Musa juga disebut sebagai "Kitab Musa" yang Allah jadikan sebagai Bimbingan untuk seluruh umat manusia yang berakal.

Bani Israel setelah Kepergian Musa
Sewaktu Musa telah berangkat untuk menghadap kepada Allah, Bani Israel masih percaya bahwa Musa akan kembali kepada mereka sebagaimana terdapat dua tokoh terhormat di tengah-tengah mereka, Hur dan Harun, yang keduanya memerintahkan Bani Israel bersabar terhadap Ketetapan Allah. Akan tetapi kesabaran mereka mulai goyah sewaktu mendapati Musa tidak kunjung kembali. Oleh karena terdapat beberapa golongan yang mengabaikan perintah-perintah Allah sewaktu Perjanjian; maka golongan-golongan itu menuntut kepada Hur supaya menghadirkan kembali Kemuliaan Allah, golongan itu tidak dapat bersabar untuk menunggu Musa dan menghendaki adanya patung dewa. Akan tetapi Hur berusaha menegur seraya memperingatkan ikrar bahwa tiada yang serupa dengan Allah, baik yang di langit maupun yang di bumi Allah serta berupaya menyadarkan tentang kesia-siaan patung dewa. Lalu terdapat orang-orang justru murka hingga Hur menjadi korban amarah mereka; kemudian orang-orang itu menghadap seraya mengancam Harun: "Buatkan sebuah dewa supaya kami sembah atau kamu akan bernasib seperti orang ini!" dalam keadan semacam ini, Harun terpaksa mengalah oleh karena ia tidak hanya mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri melainkan pula mengkhawatirkan betapa besar dosa yang akan ditanggung Bani Israel apabila dirinya benar-benar turut dibunuh oleh mereka. Harun juga khawatir apabila ia tidak segera mengambil keputusan maka Bani Israel akan saling berperang atau bahkan saling membunuh karena berada dalam keadaan berpecah belah.

Harun mendirikan sebuah tempat pembakaran dan memerintahkan mereka melempar banyak perhiasan emas ke sebuah perapian; tatkala perapian itu memunculkan patung anak sapi emas bersuara; Samiri secara sewenang-wenang menyatakan bahwa patung tersebut dahulunya disembah Musa namun Musa lupa mengatakan hal demikian. Kemudian banyak orang dari Bani Israel yang turut mengikuti upacara penyembahan patung anak sapi emas; orang-orang itu bernyanyi dengan suara lantang serta menari-nari sambil menyebut-nyebut anak sapi itu sebagai sembahan mereka. Seketika Harun berkata kepada mereka: "Wahai kaumku, sesungguhnya kalian hanya diuji melalui anak sapi ini dan sesungguhnya Tuhanmu adalah Yang Maha Pengasih, maka turutilah aku dan taatilah perintahku" mereka menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak sapi ini, hingga Musa kembali kepada kami." Ketika terdapat orang-orang dari setiap suku Bani Israel yang mengikuti tindakan penyembahan patung anak sapi; hanya suku Lawy yang tetap setia kepada Allah sebab suku ini tidak terlibat dalam penyembahan patung anak sapi emas. Mereka menahan kegeraman dalam hati seraya mempertanyakan sikap penyembahan berhala yang dilakukan di tengah-tengah mereka.

Tatkala Musa pulang dari Gunung Sinai sambil membawa loh-loh batu setelah menghadap kepada Allah, ia mendengar sorak-sorai yang riuh dari kejauhan; Musa memahami bahwa ada perkara besar yang sedang terjadi di tengah-tengah umat ini. Musa sangat geram dan berduka cita ketika ia mendapati orang-orang dari Bani Israel yang sujud menyembah dan memuja-muja patung anak sapi emas. Musa membanting loh-loh batu yang ia telah bawa sebab Musa memahami bahwa Allah akan seketika menimpakan Hukuman pedih ke tengah-tengah Bani Israel apabila Musa menyampaikan loh yang berisi larangan penyembahan berhala sedangkan orang-orang itu sedang menyembah berhala. 

Musa berkata kepada orang-orang dari Bani Israel yang menyembah berhala: "Wahai kaumku, bukankah Tuhan kalian telah mengadakan sebuah perjanjian yang berkenan untuk kalian? maka apakah hal itu tampak mustahil bagi kalian atau kalian menghendaki agar kemurkaan dari Tuhan kalian menimpa diri kalian, sehingga kalian berani melanggar ikrar kalian dengan aku bahwa kalian setia menghamba kepada Allah saja dalam keadaan apapun?" Musa berkata kepada kaumnya: "Wahai kaumku, sesungguhnya kalian telah sewenang-wenang terhadap diri kalian sendiri karena kalian telah beribadah kepada anak sapi itu, maka bertobatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kalian dan bunuhlah diri kalian; hal tersebut adalah lebih baik untuk kalian menurut Tuhan yang menciptakan diri kalian supaya Allah menerima tobat kalian. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengasihani, Maha Penyayang." lalu sebagian dari kaum itu merasa sangat menyesal seraya meratapi tindakan ini dan memahami bahwa diri mereka telah sesat kemudian berkata: "Sekiranya Tuhan kami tidak memberi anugerah kepada kami dan tidak mengampuni diri kami, pastilah kami termasuk golongan yang dibinasakan.

Ketika menyadari Murka Allah akibat kejadian ini, Musa memilih tujuh puluh orang saleh dari Bani Israel untuk memohonkan pengampunan Allah pada waktu yang telah ditentukan. Tatkala sebuah gempa bumi mengguncang mereka, Musa berkata: "Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka beserta diriku sebelum ini. Apakah Engkau melenyapkan kami semua lantaran tindakan orang-orang bodoh di tengah-tengah kami? kejadian ini hanyalah ujian dari Engkau, supaya Engkau biarkan yang Engkau kehendaki melalui ujian ini serta supaya Engkau berikan petunjuk kepada siapa yang Engkau perkenan. Engkaulah Yang memimpin kami, kiranya ampunilah kami serta kasihanilah kami dan Engkaulah Pemberi ampun Terbaik dan tetapkan untuk kami anugerah di dunia maupun di Akhirat; sesungguhnya kami bertobat kepada Engkau." Allah berfirman: "KegeramanKu akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan KasihKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku sediakan KasihKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan yang beriman terhadap ayat-ayatKu." Walaupun demikian, Musa tetap bersungguh-sungguh memohon supaya Allah tetap menyertai Umat MilikNya supaya benar-benar nyata bahwa Kasih beserta Pengampunan yang dimiliki Allah yakni Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun sanggup melebihi segala dosa yang dimiliki umatNya.

Kisah Lain yaitu seorang wanita dari Bani Israil juga pernah datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku telah melakukan dosa yang besar, aku telah bertobat kepada Allah SWT. Maka, mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengampuni dosa dan menerima tobatku!” 

Nabi Musa penasaran dengan dosa besar apa yang telah dilakukan. “Wahai perempuan, apa dosa yang engkau maksud itu?”

Perempuan menjawab, “Aku berzina dan melahirkan anak. Setelah lahir anak itu langsung aku bunuh.”

Nabi Musa tidak habis pikir dengan perilaku perempuan itu. “Keluarlah, wahai orang yang bejat (fajirah), supaya tidak turun api dari langit yang dapat membakar kami semua akibat perilakumu!”

Mendapat respon tersebut, si perempuan pun keluar dengan hati tersayat-sayat. Tak selang lama, Malaikat Jibril turun dan memperingatkan Nabi Musa, “Wahai Musa, Tuhan Yang Maha Luhur titip pesan. ‘Apa gerangan sampai engkau mengusir wanita yang bertobat tadi?’ Tahukah engkau keburukan yang lebih parah dari yang dilakukan perempuan itu?'' 
“Perbuatan siapa yang lebih parah dari perempuan tadi?” Tanya Nabi Musa.
“Perbuatan orang meninggalkan shalat dengan sengaja,” jawab Jibril.

Dimana pada saat itu cara shalat kaum Nabi Musa AS tidak sama dengan Shalat yang diwajibkan kepada umat Islam Sebagian penulis sejarah mengatakan bahwa kaum Yahudi juga melakukan sujud kepada Allah swt. dalam shalatnya. Tetapi, sujudnya berbeda dengan sujud umat Islam. Jika bersujud, orang Yahudi menempelkan pipi kirinya ke tanah, sehingga praktis pipi kanannya menghadap ke langit dan matanya juga melirik ke langit. Kaum Yahudi dipaksa bersujud ketika Allah swt. memerintahkan mengangkat Gunung Sinai di atas kepala mereka. Tujuannya adalah memaksa Bani Israil agar percaya kepada Allah swt., kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, dan keesaan-Nya. Kecuali itu, agar mereka mau menerima ajaran Nabi Musa as.

Cerita diatas mengingatkan dan menegaskan akan kedudukan shalat bagi umat Islam. Sudah jamak kita dengar hadits: “shalat ialah tiang agama. Barangsiapa menegakkan shalat sama dengan meneguhkan agama, dan barangsiapa meninggalkan shalat sama dengan merobohkan agama itu sendiri”. Selain itu, tidak pantas bagi siapa pun memutus harapan seseorang yang memiliki niat berubah menuju lebih baik. Sebab, kasih sayang dan pengampunan Allah melebihi keburukan-keburukan manusia. Semoga kisah bermanfaat dan memberi faedah buat kisa semua Amin.

Artikel Terkait