Membongkar Konspirasi Jahat Pilpres Di Indonesia

Waspadalah.., TERNYATA SELAMA INI KITA (Nitizens) TELAH DIADU-DOMBA Ternyata KEKISRUHAN POLITIK DAN SARA DI MEDSOS selama ini BUKAN DILAKUKAN OLEH KUBU JOKOWI ATAU KUBU PRABOWO, tapi didalangi dan dikendalikan oleh kekuatan lain YANG HENDAK MENGHANCURKAN PERSATUAN KITA DAN LALU MENGUASAI KEKAYAAN ALAM INDONESIA !!!

Yuuk kita kupaas...!!!
Selama ini publik tanah air Indonesia kita ini telah dibodohi dan masuk dalam perangkap sebuah kekuatan besar yang dengan sengaja memecah belah serta mengadu domba anak bangsa. Mereka mengorganisir akun-akun palsu untuk menjalankan misi jahatnya. Akun-akun tersebut secara teratur, terorganisir dan terencana membuat tulisan provokatif, menyebar hoax, memposting gambar dan meme ujaran kebencian, hingga video-video SARA.

Kekuatan besar tersebut memanfaatkan rivalitas politik antara kubu Joko Widodo dan kubu Prabowo Subianto untuk membangun gesekan dan permusuhan terus menerus. Mereka membuat dan mengoperasikan ribuan akun palsu untuk membuat opini dan mempengaruhi para Netizens.

Akun-akun palsu tersebut memposisikan diri seolah-olah sebagai pendukung Jokowi atau Prabowo, kemudian saling serang dan saling menjatuhkan. Celakanya, banyak Netizens atau masyarakat Indonesia yang buta dan tanpa sadar terpengaruh dan masuk dalam permainan jahat ini. Para Netizens ikut dalam hiruk pikuk pentas politik dan bangunan opini yang sebetulnya tidak dimengerti detailnya.

Para Netizenspun kemudian menjadi Relawan Gratisan ikut menyebar opini mereka, baik berupa tulisan, gambar, meme, atau video provokatif. Masyarakat Indonesia harus segera sadar dan bangkit bersatu, bahwa musuh kita bukan Jokowi atau Prabowo mereka semua orang baik hanya ada orang-orang tertentu disekitar mereka yang telah mengendalikan penguasa Bangsa ini dan para penjahat itu tidak mau kehilangan apa yang telah mereka usahan dan perjuangkan hingga saat ini, dimana kekuatan besar ini telah mengadu domba dan menyebarkan konten profokatif sehingga mengadu domba netizens atau pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo.

Misinya jelas melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, memecah belah, mengadu domba untuk kemudian muncul perang saudara lalu indonesia bubar/pecah, hingga pada gilirannya mereka memanen menguasai kekayaan alam Indonesia. Itulah target puncak misi mereka.

Laluu.....
Bagaimana kita mengenal ciri-ciri akun-akun palsu pembuat onar tersebut..?
Ciri-ciri akun biang kerok tersebut antara lain :
  1. Pakai nama palsu atau samaran.
  2. Pakai foto profil palsu atau gambar kartun.
  3. Profil identitas palsu.
  4. Biasanya teman-temannya masih sedikit.
  5. Biasanya akun baru, antara 1-3 tahun, kadang kurang dari setahun.
  6. Jarang posting diri atau kegiatan diri dan lingkungan.
  7. Kebanyakan beroperasi di grup-grup Facebook dengan postingan provokatif.
  8. Hobbynya komentar di TS orang yang tidak nyambung, kata-katanya kotor, rese dan murahan.
  9. Suka share berita hoax dan meme-meme provokatif.
  10. Memposisikan diri sebagai pendukung fanatik kubu Jokowi dan atau kubu fanatik Prabowo.

"Inilah kenapa antar pendukung susah move on" walau proses kontestasi itu sudah berlalu, ternyata hanya karena hebatnya adu domba para buzzer dengan akun-akun terorganisir tersebut.

Saudaraku sebangsa dan setanah air, marilah menjadi Netizens cerdas dan bijak. Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar bangsa ini memiliki pemimpin yang shidiq (jujur), fathanah (cerdas dan berpengetahuan), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (berkomunikasi dan komunikatif dengan bawahannnya dan semua orang maupun rakyat). Allah SWT mengingatkan kita semua bahwa hakikat kekuasaan itu adalah milik Allah SWT. Allah SWT yang memberi kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah pula yang mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya (lihat : al-Qur’an surat Ali Imran : 26).

Keberadaan Pasukan Buzzer Di Dunia Maya
Selama kontestasi politik di Indonesia menjadi perhatian media Inggris, The Guardian. Media ini pun lantas menurunkan tulisan menyoroti keberdaan tim Buzzer yang menjadi bagian dari politik yang sedang berkembang di Indonesia, dimana membantu memecah belah agama dan ras.

Dalam tulisannya, The Guardian mewawancarai seorang anggota tim buzzer dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Sumber yang mengaku bernama Alex itu mengatakan ia adalah salah satu dari 20 orang dalam pasukan maya rahasia yang menyebarkan pesan dari akun media palsu untuk mendukung Ahok.

"Mereka mengatakan kepada kami bahwa Anda harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram," katanya seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (24/7/2018).

"Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah 'waktunya berperang' dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun tentang kami bekerja," imbuhnya.

"Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedian untuk menyerang lawan. Tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri," ucapnya.

Alex mengatakan timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti Ahok, termasuk hashtag yang mengkritik kandidat oposisi, atau menertawakan koalisi kelompok Islam.

Tim Alex, yang terdiri dari pendukung Ahok dan mahasiswa, memperoleh bayaran Rp4 juta. Mereka diduga bekerja di sebuah rumah mewah kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Masing-masing dari mereka diberitahu untuk mengirim 60 hingga 120 kali cuitan sehari di akun Twitter palsu dan beberapa kali postingan setiap hari di Facebook.

Alex mengatakan timnya terdiri dari 20 orang, masing-masing dengan 11 akun media sosial, akan menghasilkan hingga 2.400 postingan di Twitter sehari. 

Operasi ini dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Special Force, atau Pasukan Khusus, yang Alex perkirakan terdiri dari sekitar 80 anggota. Tim itu memberi makan konten dan hashtag harian untuk diposting.

"Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil tersebut, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp," jelas Alex.

"Mereka juga mendorong kami untuk menggunakan akun wanita cantik untuk menarik perhatian pada materi; banyak akun yang seperti itu," sambungnya.

Di Facebook, mereka bahkan membuat beberapa akun menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal, yang entah bagaimana tampak seperti penggemar Ahok. Tim siber itu diduga mengatakan "aman" untuk memposting dari markas mereka di Menteng, di mana mereka beroperasi dari beberapa kamar.

"Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua adalah untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi," rinci Alex. Alex sendiri memilih untuk berada di kamar positif.

Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren hashtag mereka, setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional.


Mengingat bahwa Ahok kalah dalam pemilihan, dan berakhir di penjara, Alex mengatakan dia tidak dapat memastikan seberapa efektif timnya.

Ulin Yusron, juru bicara tim kampanye Ahok menolak mengomentari tuduhan tertentu tetapi mengatakan kampanye itu sangat sulit.

"Penggunaan fitnah, kebencian dan tipuan (berita palsu) sangat besar," katanya kepada Guardian. “Secara alami, tim membentengi diri dengan pasukan pendukung, termasuk di media sosial. Itu bukan sesuatu yang baru dalam politik,” imbuhnya. Demikian yang dapat saya sampaikan semoga menjadi pembelajaran buat kita semua sehingga kita lebih bijak dalam bermedia sosial.

Artikel Terkait