Penjajahan Ekonomi Modern

Inilah perbandingan penjajahan dulu dengan sekarang. Penjajah Barat atau Eropa menguasai sumber daya alam Indonesia, sementara para pribumi cuma jadi petugas pemerintahan seperti menjadi Sultan/Presiden, Kuli Kontrak, Karyawan, Sopir, dan pembantu saja.

Jika zaman dulu Indonesia dipaksa menjual hasil buminya hanya kepada VOC, kini penjajahannya sudah berbentuk modern. Pemaksaan penggunaan mata uang USD sebenarnya sudah termasuk dalam kategori penjajahan. Sekarang cukup dengan mendatangkan “INVESTOR ASING” yang membawa kertas yang mereka cetak jadi uang Dollar dengan membawa Bulldozer atau peralatan berat guna mengeruk kekayaan alam negara-negara berkembang… Walhasil, cuma dengan Dollar dalam bentuk lembaran kertas murah yang tidak bernilai sama sekali, telah ditukar dengan kekayaan alam kita dikeruk, sehingga bumi, sungai, dan laut kita rusak karena pertambangan tersebut itu pun cuma dibayar dengan recehan saja dan hanya bisa memakmurkan segelintir pejabat negara saja.

Apakah anda tau apa yang menyebabkan perbedaan kurs mata uang di setiap negara?
Itu adalah rekayasa perekonomian yang di buat-buat, Hal itu terjadi karena mereka memonopoli hak cetak uang kertas di seluruh dunia dan memonopoli harga emas sehingga dapat membedakan kurs mata uang di setiap negara, inilah dasyatnya tipuan bankir dunia sehingga ketidakadilan ini di terima begitu saja oleh berbagai negara di dunia ini, bahkan kebanyakan para ilmuan dan ulamanya pun tidak menyadari penipuan ini.

Penjajahan secara nyata saat ini sudah tidak dimungkinkan lagi. Bukan karena bangsa yang lemah tidak bisa dibodohi lagi, namun karena persepsi HAM yang sedemikian kuat mengakar di setiap negara. Akhirnya, penjajahan secara fisik sudah tidak mungkin dilakukan dunia barat.

Namun, kemerdekaan yang negara-negara berkembang miliki saat ini bukan kemerdekaan secara penuh. Lihat saja negara kita dengan utang yang menumpuk sampai 4.000 trilyun lebih. Bekerja keras sampai 30 tahun pun takkan terlunasi. Itu pun dengan asumsi KKN mendekati angka nol. Sesuatu yang mustahil tentunya.

Mengapa dinar sangat penting sebagai alat transaksi?
Karena dinar mengandung nilai sepanjang masa dan di negara manapun dinar itu berada tetap memiliki harga yang sama. Tidak seperti uang kertas/uang elektonik dll yang isinya (nominal uang kertas itu sendiri).

Sedangakan uang kertas setiap saat mengalami penurunan nilai terhadap harga emas dan barang, Bahaya yang lain bagi pengguna uang kertas adalah terdapatnya virus inflasi yang akan membinasakan suatu negara secara perlahan-lahan. Penyebab inflasi bukan karena hanya harga barang naik tapi nilai uang kertas yang terus menurun.

Dengan memakai uang kertas buatan Zionis (bankir dunia) ini yang nilainya terus turun seolah-olah harga barang seperti semakin mahal, padahal dalam ekonomi islam tidak ada istilah inflasi, karena dalam sistem keuangan islam menggunakan dinar sebagai alat tukar yang stabil.

Kebanyakan penduduk bumi tidak menyadari bahwa uang kertas yang di pakai selama ini adalah alat transaksi yang menipu dan dapat menghancurkan secara perlahan ekonomi para pengguna uang kertas tersebut.

Berikut ini adalah bukti penipuan dan kebohongan transaksi menggunakan uang kertas: Biaya pembuatan uang kertas 1$ adalah (Rp.1000), begitu juga pembuatan uang kertas 10.000 Rupiah adalah (Rp.1000), sehingga dengan modal yang sama keuntungan dolar terhadap rupiah adalah Rp.9000.

Begitu juga pembuatan uang kertas 100.000 Rupiah adalah (Rp.1000), karena tinggal menambahkan angka nol 5 serta merubah warna dan gambarnya pada format mesin pencetak uang kertas tersebut. Maka dengan modal 1000 Rupiah keuntungan dolar di bandingkan 1 milyar rupiah adalah 999.999.000 Rupiah? Ini adalah penipuan yang nyata, semoga kita dan kalian semua bisa menyadari dan memahami akan hal ini.

Selain itu kita diakui sebagai pemilik negara Indonesia. Namun negara-negara seperti AS dan Eropa yang telah menguasai tanah beserta isinya berupa ladang-ladang minyak, gas, emas, perak, dsb. Akibatnya AS dan Eropa makmur sementara Indonesia miskin dan melarat. Kekayaan 3 perusahaan minyak AS seperti Chevron, Exxon, Conco saja yang beroperasi di Indonesia penerimaannya bisa RP 6000 trilyun lebih/tahun.

Di manakah orang-orang yang mengaku sebagai Mujahid Islam untuk melawan hal ini? Apa sebagian justru bersekutu dengan mereka? Inilah penyebab Mayoritas rakyat Indonesia tetap miskin dan terjajah. Wallahualam. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua.

Artikel Terkait